Sepucuk Cinta Untuk Ayah

Pap, tunggu sebentar jangan dulu berlalu….
Aku ingin mengatakan sesuatu yang terpendam selama ini, penyesalanku yang selama ini tak sempat kuucapkan. Betapa bodohnya aku, tak bisa membahagiakanmu walau dengan hal termudah sekalipun. Sesalku, tak memaksa diri untuk menyempatkan waktu mendampingimu dikala sakit. Betapa egoisnya aku membiarkanmu terbaring kesakitan dan kesepian. Sedangkan yang kau inginkan adalah kehadiran kami, anak-anakmu.
Pap, Yasin itu selalu tergeletak di tempat yang sama. Dan aku selalu  melewatinya begitu saja tanpa berusaha meraihnya. Sedangkan hatiku setiap saat bergejolak, meneriakkan keinginannya untuk menghadiahimu surat terindah dalam kitab-Nya. Ah, betapa kesibukan berhasil memenangkan sisi egoisku. Hari demi  hari berlalu,  dan Yasin itu tetap diam tanpa sempat kubacakan untukmu.
Ya, Pap… tetaplah disitu. Lihatlah anakmu ini yang berusaha menghapus airmatanya. Berusaha menahan semua pilu. Aku tak bisa tanpamu, takkan pernah bisa. Pap, aku sering mencari sosokmu di antara mereka. Aku rindu melihatmu  berdiri di depan gedung kantorku.

Tersenyum– ketika melihatku bergegas menuruni anak tangga untuk menemuimu. Aku selalu berhasil menemukanmu, walau di luar gedung penuh sesak oleh para penjemput. Aku selalu menangkap suaramu di tengah riuh rendah suara murid-murid. Aku selalu mendapatimu  dimanapun juga saat aku membutuhkanmu.
Aku menyesal tak pernah memberikan yang terindah  untukmu, tak berusaha selalu ada untukmu. Bahkan di saat kau sangat membutuhkanku, aku masih saja berdalih dengan kesibukanku. Sedang kau selalu ada untukku. Walau jarak untuk menemuiku sangat jauh, kau tetap datang. Pap, kau takkan pernah tahu betapa bahagianya melihatmu malam itu. Wajah lelahmu hilang seketika sewaktu bayi merah itu menangis di pangkuanmu. Dan kau bisikan lantunan azan ditelinganya. Berapa ratus kilometer yang kau tempuh  untukku, Pap?  Demi memastikan aku  dan cucumu baik-baik saja. Dan kau harus  tahu, betapa sedihnya aku ketika keesokan hari tak menemukanmu di sisiku. Kau pergi—untuk kembali lagi.
Apa yang pernah aku lakukan untukmu, Pap? Ketika jarak tak lagi jadi penghalang pun, aku tetap saja tak sering menemuimu. Sedang kau dengan sigapnya selalu datang setiap membaca kata-kata sedih di pesanku. Aku tak pernah merasa sendirian karena tahu kau selalu ada untukku. Aku kuat berdiri– menantang semua takdir kesendirianku karenamu. Pap, kau adalah tonggakku ketika aku dan anak-anak terpaksa hidup mandiri. Kau yang selalu menghapus airmataku dengan doa-doa. Kau selalu datang dan datang lagi untuk menghiburku. Menguatkan aku. Mengatakan padaku kalau dunia ini tak semuram takdirku. Pap, aku menyayangimu. Aku tak sanggup kehilanganmu. Aku tak mau berada di dunia ini tanpamu.
Pap, lihatlah mataku. Tampakkah kerinduan di dalamnya? Aku rindu berjalan berdua denganmu. Aku rindu melihatmu  berdiri di tepi jalan menanti kedatanganku. Kau pasti tersenyum lebar ketika mendapatiku turun dari bus. Lalu dengan segera meraih tanganku, menuntunku—seperti aku kecil dulu. Kita berjalan berdampingan, menyamakan ritme langkah kaki. Kemudian bercerita tentang debu-debu yang mengotori kehidupan. Dan tentang bintang-bintang yang bersinar terang. Bahwa selalu ada dua sisi kehidupan. Sedih dan gembira. Kaya dan miskin. Hitam dan putih. Dan kau berkata semua itu tak masalah, karena ada Tuhan yang mengatur semuanya. Kita hanya tinggal menjalaninya dan berbuat banyak kebaikan sesuai kemampuan. Itu katamu,  Pap. Dan kau benar.
Pap, izinkan aku memelukmu, melepaskan semua rindu. Takkan kubiarkan semenit pun tanpa memelukmu. Seperti dirimu memelukku ketika jatuh di pangkuanmu penuh  airmata. Menghiburku. Berkata padaku semua akan baik-baik saja. Berkata betapa  Tuhan menyayangiku dan anak-anak lebih dari yang lain. Berkata bahwa kau akan selalu ada untukku. Bahwa doa-doamu akan selalu menjagaku. Kuharap semua itu benar, Pap. Aku hampir percaya semua perkataanmu, ketika tiba-tiba hujan lebat turun di kehidupan kita. Aku menyesal dengan semua kasih sayangmu yang tak sempat terbalaskan olehku. Bilamanakah waktu berbaik hati memberi kesempatan membahagiakanmu?
Lihatlah penyesalanku, Pap. Biarkan aku  menangis dipelukanmu lagi. Jangan berlalu dulu, Pap. Aku ingin memandangi mata teduhmu, meyakinkan diri kalau kau takkan pernah pergi. Kau tahu, Pap? Hatiku pedih pandangi masker yang menghalangimu ucapkan Laailaha illallahu. Aku ingin melepasnya, memberikan ruang untukmu agar bisa mengucapkannya. Tapi kakiku kaku. Jemariku membeku. Dialiri ketakutan yang sangat. Tak mungkin kehidupan tak seramah ini. Tak mungkin takdir menempatkanku dititik yang paling menakutkan. Pap, masih di sanakah? Jangan berlalu dulu… aku masih berhutang Yasin padamu.
Kini jalan yang biasa kita lalui tak sama lagi. Apakah kau sering memperhatikanku dari atas sana? Terlihatkah jemariku yang mengepal, seolah tengah digenggam olehmu? Apakah kau lihat wajahku yang selalu menunduk agar tak ada yang melihat airmataku? Pap, apa kau rindu padaku? Apa kau masih mengkhawatirkanku? Sedang aku kini berjalan sendirian, tanpa  tonggak untuk berpegangan. Tanpa doa-doa yang diperuntukkan bagi kami, aku dan anak-anak. Tak ada lagi dirimu yang bergegas datang menemui– setiap membaca kata-kata sedih di pesanku. Pap, aku membutuhkanmu. Aku tak bisa tanpamu, aku tak ingin sendirian di dunia ini. Aku merindukanmu.
Kau tahu, Pap? Hari-hariku kini kering tanpamu. Aku berusaha menepati janji yang terucap waktu itu. Janji hati di depan tanah berpelung merah. Pap, kubacakan Yasin untukmu setiap hari kini. Maafkan aku yang terlalu menuruti keegoisanku. Maaf, aku tak selalu ada untukmu. Maaf, aku tak memeluk ketika kau membutuhkan seseorang untuk menyemangati. Maaf, aku menunda-nunda menghadiahimu Yasin. Maaf, aku tak sempat membahagiakanmu.
Kini dikala rindu tentangmu menderaku—aku hanya bisa menyusuri jalan itu sendirian. Berjalan lurus, lewati belokan yang seharusnya membawaku ke rumahmu. Aku terpaksa melewatinya,  Pap. Aku belum sanggup memasuki halaman dan duduk di ruang tamunya. Tempat dimana biasanya aku melihatmu duduk—menasehatiku tentang arti kehidupan. Kini aku terpaksa berbelok ke arah lain, arah yang membawaku ke rumah barumu. Tanah berpelung merah itu selalu jadi saksi rinduku padamu.
Pap, biarkan aku melihat senyumanmu. Aku ingin berlari ke pelukanmu, menangis sepuasnya. Menceritakan hari-hariku yang limbung tanpamu. Aku tahu, kau hanya akan tersenyum sambil menggenggam jemariku erat. Mengusap rambutku. Dan mengatakan seemuanya akan berlalu. Dan kita takkan sadar telah melaluinya. Kau benar, Pap. Aku tak seharusnya menyalahkan kehidupan. Seperti katamu, kehidupan hanya mediaku dalam menjalani takdir. Dan kau benar lagi tentang satu hal, Pap. Tuhan selalu ada untukku. Walau tak terlihat, Dia selalu melihatku dan menjagaku.
Pap, izinkan aku umumkan pada dunia tentang artimu bagiku. Biarkan aku memberitahu mereka semua—betapa bangganya hati ini memiliki ayah sepertimu. Yang selalu ada di saat-saat tersulitku. Pap, ini Yasin untukmu… biarkan aku membacanya setiap hari untukmu. Aku ingin rumahmu paling terang di sana karena doa-doaku. Seperti kau yang selalu menerangi hari-hariku.
Aku merindukanmu….

5 comments
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like