Persiapan Ramadan

     Entah kenapa hari ini terasa begitu penat. Kamar yang biasanya nyaman sama sekali tidak membantu menyamankan hati. Ide-ide yang biasanya muncul bergantian lenyap begitu saja. Otak ini sama sekali tidak dapat dipakai untuk berpikir. Kembali godaan untuk minum obat menggelitik. Untungnya bisa kutepis dan meyakinkan diri kalau menulis adalah proses pengobatan yang terbaik.

         

     Besok ramadan akan mulai dan aku belum mempersiapkan apapun. Tidak ada masakan spesial yang diersiapkan, tidak menu khusus ramadan yang dibuat. Aku menganggap ramadan bukan hari khusus sehingga harus menyiapkan menu-menu sahur dan berbuka yang lain  dari hari biasanya. Bagiku ramadan adalah bulan khusus untuk menimba keimanan.
    Ketika penat mulai semakin menggelitik–akhirnya aku putuskan untuk keluar rumah mencari udara segar. Tidak ada ide sangat menggangguku, membuat otakku tidak seimbang. Seperti tidak punya tujuan pasti akan arti kehidupan. Aku akui, memang kegiatan menulis ini harus aku lakoni agar keseimbangan kesehatan rohani dan jasmani seimbang. Menulis membuat semua ekspresiku keluar, menjadikan dopamin di otakku seimbang. Namun, ketika kegiatan itu tidak dilakoni, sakit di kepala mulai menyerang lagi dan aku seperti lemas tak ada semangat hidup.
          Akhirnya rasa tak menentu itu berhasil aku tepis dan berhasil memaksa kaki untuk melangkah keluar rumah. Jalanan yang dilalui angkot masih dalam batas normal pagi ini. Aku sedikit terkejut karena tidak ada aroma macet yang biasanya tampak. Mungkin orang-orang masih sibuk di rumah masing-masing. Atau jangan-jangan mereka malah tumplek di suatu tempat? Entahlah, yang terpenting aku berhasil menghalau rasa malas dan keluar dari kamarku yang terasa sumpek.
        Kecurigaanku mulai bisa dibuktikan. Setelah sebelumnya berhasil berjuang melawan arus manusia yang memadat di Pasar Tegalega, aku pun memutuskan untuk pergi ke pusat kota. Anehnya, ketika mencegat angkot dan mendapat pertanyaan dari sang sopir–aku baru sadar kalau angkot itu seharusnya tidak lewat di depan Tegalega. Pak sopirnya sampai tertawa ketika menyadari keherananku. Katanya angkot itu baru keluar dari garasi, jadinya lewat Tegalega. Suatu Kebetulankah angkot yang menuju pusat kots itu lewat?
     Beberapa penumpang mulai naik, dan aku nyaris hilang kesabaran karena mereka. Dua di antara mereka ada yang bertanya arah ke Museum Geologi, dan aku sebisa mungkin menerangkan arah yang benar. Walaupun pada awalnya mereka bersikukuh untuk tetap menggunakan angkot itu dan menyambung dengan bus Damri. Otakku benar-benar tidak bisa mencerna rencana mereka, karena tidak ada bus yang lewat ke depan museum sebenarnya. Belum lagi satu penumpang yang membuat tambah kesal dengan segala petunjuknya yang menyesatkan. Sampai menyuruh untuk naik Bandros pada kedua penumpang itu. Entah apa yang ada di pikiran mereka, padahal untuk menuju Museum itu sama sekali tidak sulit. Asal berpatokan pada Lapangan Gasibu dan Gedung Sate saja.
    Akhirnya, aku berhasil untuk meyakinkan mereka tentang rute yang harus diambil, dan kami turun bersamaan di pusat kota. Pusat kota yang tampak ramai–bahkan di hari yang mulai panas. Aku mulai mencari tempat untuk menyantap awug yang tadi dibeli di Tegalega. Kegiatan mengamati orang-orang mulai kulakoni. Ini kegiatan yang menyenangkan karena bisa melatih empati, dan aku selalu mendapat kawan baru dari kegiatan ini. Seperti kali ini pun aku berkenalan dengan satu keluarga yang datang dari Plered. Kebetulan yang menyenangkan, karena aku mendapat info tentang Wiskul dan perjalanan menggunakan kereta api. Ini adalah kesempatan untuk traveling ke Plered dan membuat artikel tentang Wiskul. Sebuah kebetulan yang membawa manfaat.
     Ketika hari semakin siang, orang-orang pun semakin menyemut. Aku kemudian memutuskan untuk salat di pusat pembelanjaan. Kenyataan yang kudapati sungguh mengejutkan. Ramadan masih esok hari, tapi mereka sudah mulai memadati mall, dan berburu pakaian. Gerobak-gerobak yang dipenuhi pakaian diskonan berjejer di dalam mall dan dikerubuti para pengunjung. Supermarket di tingkat atas pun tidak ketinggalan dipenuhi pengunjung. Troli mereka terlihat penuh oleh makanan. Aku mengeluh dalam hati, jadi memang seperti inikah fenomena ramadan? Ketika hal-hal yang dipersiapkan untuk meyambutnya beralih ke pakian dan makanan.
        Aku hanya bisa menghela napas dan bertanya pada diri sendiri, seperti inikah persiapan ramadan itu? Napasku semakin berat ketika menyadari belum memiliki bahan tulisan untuk besok.
#bianglalahijrah 
#onedayonepost30hrdc
#writingchallenge30hrdc #30hariramadhandalamcerita
13 comments
  1. Hehehe, semangat mba. Demikianlah kebiasaan Ramadhan terlebih di kota2 besar. Pada nyerbu mol kalau di kampung pada ke pasar beli ayam, beli daging buat sahur. Dinikmati, salah satu hikmah yang mba dapat adalah… Jrengggg nih jadi tulisan. Semangat!!! Salam kenal

  2. Wah saya tertarik dengan cerita yang mbak nya kenalan dengan serombongan keluarga dari plered tersebut. Maklum, saya pemalu jadi jarang menyapa duluan. Hehe. Oh iya, kayaknya menyenangkan ya pergi ke suatu tempat sendirian begitu. Hehe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *