Melangkah Pasti

Bismillahirrahmannirrahiim,

Bagiku tahun 2019 adalah tahun jawaban dari semua pertanyaan yang ada. Sedikit demi sedikit kebimbangan yang menggelayuti mulai mendapatkan wadahnya di tahun itu. Aku yang perlahan mulai mencari jati diri akhirnya bisa meyakinkan diri untuk bergerak pada jalur yang memang sejatinya sejalan dengan hasrat yang ada.

Berbagai macam dilema kehidupan yang mendera sempat membuatku kehilangan arah. Bahkan, dalam perjalanannya pun semakin banyak saja tahapan ujian yang harus ditempuh. Jujur, seringkali aku bertanya pada diri sendiri, apa memang aku sekuat itu?  Tapi, Allah selalu saja memberi dan memberi lagi tingkatan ujian yang mau tak mau harus dilewati.

Ketika berbagai kehilangan sempat membuat hampir putus asa, tiba-tiba aku menemukan sebuah harapan baru untuk bercerita dalam tulisan. Bersamaan dengan tekad bercerita dan membuat buku, aku pun bergabung pula dengan berbagai grup menulis. Benar-benar waktu itu semua kesibukannya hanya untuk mengalihkan rasa sedih saja. Ketika menulis, aku menemukan sebuah harapan baru untuk hidup. Apa mungkin itu juga pelarianku dari rasa pedih? Yang aku tahu, hanya beberapa gelintir orang saja yang dipercaya untuk dekat. Sepertinya aku tengah melindungi diri sendiri dari rasa sakit kehidupan. Tetapi, itu jadi masalah baru juga karena aku jadi semakin menutup diri.

Aku hanya paham bahwa apapun yang terjadi kaki ini tidak boleh berhenti melangkah. Seperti apapun juga rasa sakit yang aku terima, jangan pernah menyerah. Kemudian di tahun 2019 aku semakin menenggelamkan diri dalam kesibukan. Setiap akhir pekan pasti jadwal berkomunitas dan mengikuti kegiatan memenuhi agenda. Semua kegiatan di luar rumah itu selain untuk self healing, juga untuk menambah ilmu.

Rasulullah pernah berkata,

“Seperti apapun suasana hatimu, berpakaianlah, lalu keluarlah dari rumah”

Waktu itu aku menyimpulkannya sebagai anjuran untuk tidak berputus asa dan tetap bersemangat dalam menimba ilmu. Aku benar-benar melakukannya. Setiap ada waktu untuk menimba ilmu pasti menyempatkan diri untuk memburunya. Sayangnya, segala kesibukanku untuk self healing itu ternyata tidak mendapat dukungan dari semua orang. Kadang aku tertekan dengan segala praduga orang-orang yang tidak paham. Tetapi kemudian aku bersikeras untuk mengabaikannya. Karena sebenarnya segala yang aku jalani adalah sebuah proses untuk menjadi lebih baik lagi.

Tahun 2019 menjadi tahun yang penuh dengan kegiatan literasi. Setelah beberapa buku antologi selesai, aku pun sempat menelurkan novel solo hasil duel novel. Kemudian, aku sempat mengikuti beberapa event dari sebuah forum daring dan menjadi salah satu pemenangnya. Aku sangat antusias dengan semua perkembangan yang ada. Terus terang, aku mengharapkan pemasukan dari hobi yang ditekuni ini. cita-citaku tidak muluk karena selalu sadar di atas langit masih ada langit. Kemampuan menulisku masih jauh di bawah penulis lain. Bagiku itu tidak masalah, karena aku hanya menyukai menulis. Menulis adalah sarana self healing buatku, tidak lebih dari itu.

Prinsipku, menulis lalu lupakan. Menulis dan lupakan.

Anggap saja kegiatan menulis itu sebagai sarana menebar benih kebaikan yang buahnya akan dipetik oleh semua orang.

Tetapi, aku masih tetap berharap hobi ini menjadi penolong untuk menstabilkan keuangan. Rasanya menyenangkan sekali bekerja sesuai dengan passion.

Kesulitan terbesarku adalah terkadang merasa disakiti ketika ada yang mencoba memperbaiki. Tetapi, itu lebih kepada perasaan tidak dipahami oleh orang-orang disekitar. Aku bukan orang yang senang menuntut, karenanya tidak senang apabila dituntut macam-macam. Aku yakin, setiap orang punya kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Lagipula, hidup kita bukan hidupnya, jadi apa hak seseorang untuk menuntut sesuatu yang tidak diketahuinya?

Hanya saja di tahun 2020 ini aku becermin pada seluruh peristiwa yang terjadi pada tahun sebelumnya. Aku sampai pada satu kesimpulan bahwa Allah memberi semua ujian untuk menjadikan lebih tegar, lebih kuat. Setelah beberapa waktu bingung dengan apa yang harus dilakukan. Akhirnya aku sampai pada satu titik untuk menghentikan semuanya. Menghalau semua keegoisan, dan berhenti menyakiti diri sendiri untuk menjadi seperti yang dituntutkan. Aku harus tegas pada diri sendiri dan menjauh dari hal-hal yang berunsur negatif.

Pada akhirnya, aku putuskan untuk membuka diri pada orang-orang yang sepaham. Pada kelompok yang sejalan. Membuka diri untuk lebih baik, membuka diri untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih luas lagi. Aku lega karena telah mendapatkan teman yang sepaham dan mendukung segala perubahan.

Tahun 2020 ini aku tetapkan sebagai tahun perubahan. Aku berkeyakinan bisa berbagi ilmu dari setiap ujian yang telah ditempuh selama ini pada orang banyak. Aku akan melakukannya karena mengerti itu yang terbaik.

Semakin mendekatkan diri pada Allah juga menjadi prioritas utama selama ini.

“Bagiku, ibadahku hanyalah butiran debu yang akan lenyap tertiup hembusan angin”

Aku sadar begitu banyak kekurangan hingga selalu ingin memperbaiki diri. Sekarang, dimulai pada hari ini, aku bertekad menyelesaikan tulisan yang tertunda. Sebuah karya tentang perjuangan selama ini. Karya yang akhirnya ditutup ceritanya dengan sebuah pemahaman bahwa Allah memang berkehendak aku terus berjuang. Tentu saja aku akan melakukannya! Berusaha menjadi lebih baik dari yang lalu. Membuktikan pada mereka bahwa aku bukan seperti yang mereka duga. Kemudian menjadi pribadi yang bahagia karena telah paham akan tugasnya di dunia.

Berkarya dan terus berkarya tanpa meghiraukan jasa yang akan diperoleh adalah tujuanku. Yang menilai itu Sang Maha Pencipta. Yang akan memberikan jasa itu hanya Allah. Aku hanya perlu terus menyempurnakan ikhtiar, lalu tinggal menunggu langit mengabulkannya. Man Jadda Wa Jadda.

Tulisan ini merupakan kolaborasi dengan Bandung Hijab Blogger

16 comments
  1. Aamin yaa…Mari terus berkarya apalagi kalo bisa menghasilkan pundi2, huhu menyenangkan.
    Btw kusuka banget kata2 ini “Seperti apapun suasana hatimu, berpakaianlah, lalu keluarlah dari rumah” Iya dan dengan begitu kita bakalan lebih memahami siapa diri kita hihi..

    1. Emang menulis itu best healer ya teh yola. Akupun demikian. Buatku yang penting aku melakukannya denga seluruh hati. Hasilnya selalu menyenangkanjuga di hati. Tapi aku paling sukka part pakailah bajumu dan kluar rumah. Aku paling sukka tuh kalo lagi suntuk begitu hahaha…

  2. Masya Allah…semangat terus menulisnya ya 😍. Menulis emang bener2 bisa bantu mengalihkan perhatian kita menjadi sesuatu hal yg lebih positif. Insha Allah

  3. wah enak banget teh baca tulisannya.. sekaligus ngerefresh dan ngerecharge bahwa semua yg terjadi itu pasti kehendak Allah dan yakin pasti akan indah. semangat terus ya tehh

  4. Tahun penuh literasi, Masya Allah. Semangat berkarya terus ya teh. Kehilangan, anggap aja sebagai ujian agar kita naek kelas, dan semoga sama dengan menulis bisa juga dapat bonus untuk menstabilkan keuangan. Enak banget kan kerja sesuai passion

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like