Buaya dan 11 Ekor Kambing

Negeri Biru dikenal dengan dua bukit indah yang dimilikinya. Kedua bukit itu diberi nama Bukit Utara dan Bukit Selatan. Bukit Selatan dihuni oleh para penduduk Negeri Biru. Sedangkan Bukit Utara kosong tidak berpenghuni. Kedua bukit indah itu sangat subur dan banyak sumber makanan. Bahkan, binatang ternak yang tinggal di Bukit Selatan gemuk-gemuk dan sehat. Bukit Utara dan Bukit Selatan dipisahkan oleh sebuah sungai besar dan dalam.

Suatu hari, angin musim kemarau bertiup. Negeri Biru mendadak jadi kering dan dingin. Pohon-pohon banyak yang mati. Air sungai di Bukit Selatan pun mulai kering. Para penduduk gelisah karena makanan jadi sedikit. Binatang-binatang juga mulai ribut, termasuk 11 ekor kambing yang tinggal di dekat sungai besar.

“Air sungai dekat desa benar-benar kering sekarang!” Kambing nomor 7 melompat-lompat gelisah.

“Diam nomor 7!” Kambing nomor 1 kelihatan kesal sekali hari ini.

“Yah, berhentilah melompat! Aku jadi tambah haus melihatmu,” seru kambing yang lainnya.

11 kambing itu mondar-mandir dekat sungai besar. Mereka haus dan lapar. Sedangkan rumput-rumput berubah kering dan tidak bisa dimakan. Kambing-kambing itu tidak berani minum air sungai besar karena banyak buaya di dalamnya. Itu sebabnya para penduduk Negeri Biru tidak bisa ke Bukit Utara. Sungai Besar dijaga oleh para buaya.

Tiba-tiba kambing nomor 10 berlari ke Sungai Besar. “Aku haus!”

“Nomor 10 jangan bodoh! Cepat kembali!”

10 ekor kambing itu panik melihat saudara mereka menghampiri sungai Besar. Kambing nomor 10 tidak menghiraukan teriakan yang lain. Dia tetap ingin minum air sungai. Ketika sampai di tepi sungai, dengan rakusnya dia minum tanpa berhati-hati. Tiba-tiba telinganya mendengar suara bergerak dalam air. Ketika matanya berusaha menembus air sungai, terlihat bayangan hitam bergerak cepat ke arahnya. Tak lama kemudian moncong buaya yang besar menyembul dari dalam sungai. Kambing nomor 10 berteriak kaget. Untung saja kakinya lincah. Dia langsung melompat mundur ketika si buaya berusaha menggigitnya.

“Tolong! Tolong!”

Kambing nomor 10 langsung berlari ke tempat saudara-saudaranya. Kesepuluh kambing lain pun lari tunggang langgang. Mereka mencari tempat aman di sebuah kebun kering dekat desa.

“Kamu bodoh!” seru kambing nomor 1, “harusnya jangan minum di sungai itu.”

Kambing yang lain setuju dengan perkataan pemimpin mereka. walaupun air Sungai Besar belum kering, tapi mereka tahu sangat berbahaya untuk diminum.

“Jadi apa yang harus kita lakukan?”

Kambing no 11 mengeluh. Badannya lemas karena lapar dan haus. Kambing nomor 11 jadi terlihat semakin kurus saja sekarang. Kambing nomor 1 berpikir keras. Dia tahu di Bukit Utara masih banyak makanan. Tetapi, mereka tidak bisa menyeberang karena ada buaya yang menjaga. Ketika 11 kambing itu tengah berpikir, sebuah semak-semak di dekat mereka bergerak-gerak.

“Siapa di situ?”

Kambing nomor 1 sudah siap-siap hendak menanduk ketika si Kancil keluar dari persembunyiannya.

“Ini aku, kawan!” serunya dengan mulut penuh buah rambutan.

11 kambing itu tidak suka buah rambutan, yang mereka suka adalah rumput. Memang ada beberapa pohon rambutan yang masih ada sisa buahnya di desa.

“Kenapa kamu sembunyi, Kancil?”

“Aku takut ada yang merebut rambutanku.”

Karena makanan sudah jarang di Bukit Selatan, kadang-kadang penghuninya saling berebut makanan yang masih tersisa.

“Kami sudah beberapa hari ini tidak makan,” keluh para kambing.

“Kamu ada akal agar kami bisa menyeberang ke Bukit Utara?”

Kambing nomor 1 bertanya pada Kancil. Si Kancil memang terkenal pandai di antara para binatang.

“Tentu saja aku tahu caranya.”

Kancil menjawab penuh percaya diri. Senyum lebar langsung menghias wajahnya. Dengan segera 11 ekor kambing itu mendekati Kancil. Binatang cerdik itu dengan senang hati menceritakan rencananya pada mereka.

“Kamu yakin ini akan berhasil?” Kambing nomor 7 tampak ragu.

Kancil mengangguk tegas. Akhirnya 11 ekor kambing itu berjalan kembali ke arah Sungai Besar. Ketika tiba di tepi sungai, kambing nomor 1 membagi mereka jadi 2 kelompok. Masing-masing kelompok berkumpul di sungai bagian barat dan timur.

“Ikuti seperti apa yang dikatakan Kancil.”

Kambing nomor 1 mengingatkan yang lain. Para kambing itu mengangguk paham. Mereka berdoa semoga rencana ini berhasil.

Sementara itu para buaya yang berada di Sungai Besar melihat kambing-kambing itu. Mereka marah karena para kambing sudah berani mendekati sungai besar.

“Lihat, mereka mau menyeberang!” teriak pemimpin buaya sambil menunjuk kambing nomor 1 yang tengah berdiri di tepi sungai. Dengan segera buaya-buaya itu menyerbu tepi sungai tempat kambing no 1. Ketika semua buaya itu bergerak ke timur, kambing yang berada di bagian barat pun menyeberang sungai dengan cepat.

“Hei lihat, ada yang menyeberang!”

Buaya-buaya itu dengan marah berbelok ke barat untuk mengejar kambing yang menyeberang. Ketika buaya bergerak ke barat, giliran kambing yang di timur menyeberang ke Bukit Utara.

“Lihat. Mereka menyeberang di sana!”

Buaya-buaya itu berbelok lagi ke timur untuk mengejar kambing yang menyeberang. Demikian seperti itu seterusnya sampai hampir semua kambing berhasil menyeberang. Ketika para buaya itu telah lelah, kambing nomor 11 yang paling kurus pun menyeberang di bagian Barat.

“Ada yang menyeberang lagi!”

“Ah, biarkan sajalah! Kambing itu terlalu kurus untuk dimakan!”

Para buaya itu membiarkan kambing kurus menyeberang. Mereka kelelahan karena terus berenang bolak-balik mengejar para kambing. Akhirnya kambing nomor 11 pun berhasil sampai di Bukit Utara dengan selamat.

“Kita berhasil. Hore!”

Para kambing berlarian ke padang rumput yang ada di Bukit Utara. Mereka makan rumput sepuasnya, dan minum air sungai di dekat padang sebanyak mungkin. Sementara itu para buaya tengah berkumpul menanti para kambing menyeberang kembali. Tetapi, buaya-buaya itu salah. 11 ekor kambing itu tidak berniat kembali ke Bukit Selatan. Mereka bahagia menemukan rumah baru di Bukit Utara.

 

1 comment
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like