Jangan Berikan Sisa Waktu

Dulu aku pernah jadi pengatur waktu terhebat di dunia, versi diriku tentunya. Begitu teraturnya aku hingga rencana 5 tahun ke depan pun sudah tertulis dalam list. Dari waktu matahari terbit hingga terbenam segala aktivitasku begitu rapi dan terencana. Waktu benar-benar dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya kala itu.

Kemudian sesuatu terjadi. Aku jadi budak waktu yang teratur itu. Entah kenapa, semakin berusaha berjalan sesuai jadwal, malah semakin sempit waktu yang dijalani. Ternyata waktu yang tersisa bukannya tambah banyak, malah semakin sempit saja. Apa yang terjadi? Apakah waktu bisa dimakan waktu lagi?

Semakin aku menepati waktu yang tersusun, semakin sedikit pula waktu yang ada untuk mengerjakan hal-hal tertentu. Semakin aku berusaha menepati kewajiban tiba tepat waktu di tempat kerja semakin tidak ada waktu untuk memperhatikan anak-anak. Semakin berusaha memaksimalkan waktu untuk berdedikasi pada pekerjaan, semakin mereka terbengkalai. Sampai-sampai pakaian mereka lusuh karena aku tak sempat mengganti baju seragamnya.

Bahkan, anak-anak sering harus makan seadanya di tempat kerja, karena aku tidak sempat menyiapkan apapun untuk bekal. Itu semua karena begitu sibuknya aku berusaha menepati waktu. O, ya, waktu itu tempat kerjaku di sekolah, dan kebetulan anak-anak pun bersekolah di situ. Sering anak-anak harus menunggu aku hingga jam pulang tiba, itu juga karena tidak ingin korupsi waktu kerja.

Lalu, hal yang mengerikan pun terjadi. Waktu yang telah aku susun rapi ternyata malah memakan hal-hal penting di hidup. Waktuku jadi begitu sempit untuk mengurus anak-anak. Mereka terbengkalai, hingga sering sakit. Bahkan anak bungsuku sampai harus disedot dahaknya karena batuk yang tidak kunjung sembuh. Aku ingat benar kala itu begitu sibuk hingga tidak sadar karena anak-anak main hujan di sekolah.

Kemudian aku jadi tidak punya waktu untuk beribadah. Semakin aku berusaha menepati waktu, jatah waktuku beribadah semakin tidak ada. Aku mempersempit waktu untuk berdoa dan berzikir karena berusaha menepati jadwal yang ada di list. Ini benar-benar mengerikan. Untuk bersosialisasi dengan tetangga pun aku tidak punya waktu. Padahal semua sudah terjadwal demikian rapi agar tidak ada jam yang tersia-siakan.

Aku mulai bertanya-tanya ketika semua waktu yang telah tersusun malah membuat semakin jauh dari hal-hal penting. Sebenarnya aku itu menghemat atau hanya membuang-buang waktu? Karena ternyata aku tidak mendapatkan apapun dari jadwal yang telah tersusun itu. Selain dari tidak terurusnya anak-anak, ibadah yang jadi terbengkalai, juga tidak ada waktu untuk silahturahmi dan sosialisasi. Ini mengerikan. Lalu kemana sisa waktu yang harusnya ada? Padahal dengan manajemen waktu yang begitu ketat harusnya ada banyak waktu untuk mengerjakan hal yang lain. Tetapi ini malah tidak ada waktu.

Ternyata aku salah menerapkan manajemen waktu. Hal-hal yang bersifat dunia aku dahulukan daripada akhirat. Akibatnya malah waktu jadi semakin sempit. Kemudian aku pun memutar segalanya. Waktu yang telah terjadwal aku balikkan. Anak-anak  jadi prioritas, walaupun tentu saja jadi pekerjaanku yang jadi kendor waktunya. Waktu beribadah juga aku perpanjang seperti biasanya.

Keajaiban pun mulai terjadi. Pada awalnya aku takut dengan memprioritaskan hal-hal di atas semua waktuku akan kacau. Ternyata yang terjadi malah sebaliknya. Aku malah jadi punya cukup waktu untuk menyelesaikan semuanya. Malah semua jadi teratur dan hidupku jadi terasa damai. Memang benar, ketika kita mengejar dunia yang terjadi malah semua sulit diraih. Tetapi ketika mengejar akhirat, dunia pun mengikuti.

Akhirnya aku menyadari bila selama ini hanya memberikan sisa waktu untuk hal-hal terpenting dalam hidup. Itu sebabnya waktuku terjadwal tapi malah banyak yang terbengkalai. Bisa jadi itu semua adalah teguran, karena setiap hal berhak akan waktu. Segalanya harus seimbang, terbagi sama banyaknya.

Tulisan ini adalah tema kolaborasi dengan teman-teman Bandung Hijab Blogger

 

11 comments
  1. Ada masanya kita memang jadi budak waktu, tapi tetep harus ada jeda. Salut banget sampe 5 tahun ke depan sudah ada skedulnya. Kereen..tapi cape kan yaa?
    Aku pernah mengalami hal yg sam ketika pernah muda, nanti bakalan ada masanya juga terskedul tapi tetep happy dan merasa tambah ringan justru kerjaannya.
    Yuk, aahhh…smaa 2 belajar terus menej waktu.

  2. Kadang emang suka gitu sih teh. Kira mesti lewatin yang gagal dulu biar ngeh ini gak bener. Tapi yang penting saat kira maju lagi memeperbaiki yang gak bener. Sampe akhirnya kita mempetlakukan waktu jadi lrbih baik. 👍

    1. Masha Allah bener kata teteh kita gak boleh nyisain waktu buat urusan yg emang harusnya jd prioritas seperti ibadah pada Allah dan juga urus urusan domestik di rumah.

  3. Ini aku banget beberapa tahun yang lalu, disaat masih terlalu memprioritaskan urusan kerja dibanding amanah domestik. Dampaknya ngeri emang. Semoga kita bisa mengoptimalkan waktu sebaik-baiknya

  4. Pengalaman jadi guru yang terbaik ya teh. Kalo aku saat ini masih lebih berat ke urusan rumah tangga, sampe kantor pun sering harus mengalah. Tapi itu komitmen aku. Keluarga tetep diatas segalanya, sesibuk apapun aku.

  5. Mashallah, bener bener aku seperti refleksi diri baca tulisan teteh. Kadang kita memprioritaskan hal hal yang sebenarnya bukan kewajiban dan membuat kewajiban kita ada di sisa waktu saja 😔😔

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like