Titi Si Pemberani

Kerajaan Kucing yang dipimpin oleh Ratu Sur terletak di gang kecil di sebuah kota besar. Gang itu suram dan kurang pencahayaan karena diapit oleh dua gedung tinggi di kanan dan kiri. Kerajaan kucing memiliki 4 panglima. Panglima yang paling terkenal dan disegani adalah Panglima Thomas. Thomas menjaga gang tempat kerajaan Kucing berada dari dua kerajaan musuh. Yaitu Kerajaan Doggy dan kerajaan Tikus.

Kerajaan Kucing selalu diganggu oleh anjing-anjing dari kerajaan Doggy. Untungnya Thomas sangat cerdik dan selalu dapat menghalau mereka pergi. Panglima keempat itu juga menjaga Desa Keju yang masih terdapat di dalam gang suram itu. Desa Keju itu sebenarnya berupa gudang yang berisi rak-rak berisi keju dari sebuah toko pizza. Ampas keju sisa dari pizza selalu dibuang ke dalam tong. Tong-tong itulah yang diincar oleh para penghuni kerajaan Tikus.

“Panglima, tugasmu adalah menjaga agar tong-tong keju di Desa Keju aman dari para tikus!” titah sang ratu pada suatu hari.

Panglima Thomas menegakkan tubuhnya yang tegap. “Akan hamba lakukan seperti yang Anda perintahkan yang mulia.”

Para panglima yang lain sebenarnya merasa iri dengan kepercayaan yang diberikan ratu pada Thomas. Tetapi, mereka tidak bisa membantah titah ratu. Sedangkan Thomas sendiri sangat bangga dengan kepercayaan yang diberikan ratu padanya. Panglima keempat itu selalu berusaha sebaik-baiknya menjalankan tugas yang diberikan.

Sementara itu di Kerajaan Tikus terjadi perdebatan. Para prajurit tikus mengeluh karena tidak bisa mengambil keju di dalam tong.

“Kita bisa kelaparan kalau terus seperti ini!” Raja Tikus menggebrak meja tempat para tikus mengadakan rapat.

“Tapi hamba tidak akan menyerah, Yang Mulia,” ucap seorang prajurit sambil berdiri. “Setelah rapat ini, prajurit terpilih akan diutus ke Desa Keju untuk mengambil keju.”

Raja tikus mengangguk setuju. Persediaan makanan di gudang istana mulai menipis. Sedangkan musim hujan sudah dekat. Keju-keju itu harus segera dipindahkan ke gudang istana untuk persediaan rakyatnya.

“Ayah, izinkan aku bicara.” Tiba-tiba Titi putri tikus bangkit dari kursinya. Dengan lembut dia menatap seluruh tikus yang hadir di aula. “Alangkah baiknya kalau kekerasan bisa dihindarkan, Ayah,” lanjutnya lagi, nada bicaranya lembut tapi tegas.

Raja tikus paham benar dengan maksud putrinya itu. Titi memang dikenal sebagai putri yang cinta damai. Kecantikan hati terpancar di wajahnya. Putri Titi memang sangat cantik, kecantikannya sering membuat hati para kucing luluh. Panglima Thomas selalu mengizinkan Putri Titi melanjutkan perjalanan apabila hendak melintasi perbatasan kerajaan.

“Semoga saja perang tidak perlu terjadi,” timpal sang raja.

Putri Titi hanya diam, tidak banyak yang tahu kalau dia sebenarnya sedang merencanakan sesuatu.

 

Sore harinya, para prajurit pilihan raja tikus pun berangkat ke perbatasan kerajaan. Mereka bertekad hendak mengelabui para prajurit kucing dan mengambil keju. Sayangnya, kedatangan mereka diketahui Panglima Thomas. Penciuman kucing yang tajam langsung dapat menangkap bau para tikus.

“Ada tikus-tikus bersembunyi di arah jam 9,” desis Panglima Thomas memperingatkan. Para prajurit kucing mengangguk, mereka langsung mengambil posisi masing-masing untuk menyergap musuh.

Sementara itu para tikus mengendap-endap di balik peti kayu yang berjejer di pinggir gang. Mereka menyelinap dari satu peti ke peti yang lain secara bergantian. Tikus-tikus itu sama sekali tidak menyadari kalau ada mata-mata kuning yang waspada tengah mengawasi.

“Kucing-kucing itu tidak tahu kita ada di sini,” desis prajurit tikus sambil memberi isyarat pada seorang prajurit untuk maju dan masuk ke gudang keju. Pintu gudang keju terbuka sedikit, jadi mereka tidak akan kesulitan keluar nanti sewaktu berhasil mengambil keju.

Prajurit yang diberi perintah itu mengangguk, lalu dengan percaya diri mengambil ancang-ancang menyeberang. Prajurit tikus kemudian memberi isyarat pada prajuritnya untuk menyeberang.

“Hati-hati,” desisnya. Baru juga kata-kata itu diucapkan, tiba-tiba si prajurit yang tengah berlari menyeberang hilang dalam satu kedipan mata,

“Ada panglima Thomas!” pekik prajurit-prajurit tikus yang lain.

Ternyata si prajurit yang menyeberang itu ditangkap oleh Thomas. Panglima itu menyeringai kejam ke arah tikus-tikus yang menggigil ketakutan. Ekor si prajurit tikus dijepit oleh jari Thomas, lalu dengan perlahan si tikus itu di arahkan ke mulutnya yang menganga lebar. Para tikus mundur merapat ke tembok di belakang mereka. Ketika si prajurit yang tertangkap itu hampir masuk ke mulut Thomas, mereka semua berteriak ketakutan lalu lari terbirit-birit.

“Hahaha. Dasar penakut!” seru Thomas kegirangan sambil meletakkan si prajurit tikus ke tanah. Dia hanya ingin menakuti para tikus saja agar mereka jera.

Thomas memerintah para prajuritnya untuk mengikat si tikus dan membawanya ke penjara. Kemudian para kucing itu pun meninggalkan Desa Keju.

 

Istana Tikus gempar ketika para prajuritnya membawa berita buruk. Raja Tikus sangat marah dan berniat menyerang Kerajaan Kucing untuk membalas dendam. Untungnya, Putri Titi berhasil mencegah keinginan ayahnya itu. dengan lemah lembut dia membujuk sang ayah sambil menyampaikan sebuah rencana.

“Aku memiliki sebuah rencana, Ayah!” seru Titi seraya mengacungkan sebuah kalung berlonceng ke udara.

Seluruh penghuni istana kemudian menunggu keputusan raja tikus dengan was-was. Rencana Putri Titi telah disetujui oleh raja dan para penasehatnya. Selama 2 jam para petinggi istana membicarakan usulan tuan puteri.

“Masalahnya, sekarang siapa yang akan berangkat ke Kerajaan Kucing? Pasti tidak akan ada yang bersedia.” Raja Tikus mondar-mandir di aula istana dengan gelisah.

“Aku yang akan berangkat, Ayah!” Putri Titi berdiri lalu mendekati sang raja dengan penuh keyakinan.

Raja Tikus terkejut menyadari tekad putrinya. Tetapi, rencana itu memang harus dilakukan. Kalau tidak, rakyatnya bisa mati kelaparan. Setelah menimbang beberapa lama, akhirnya raja pun menyetujui usulan putrinya. Raja memerintahkan para prajurit terbaik untuk mengawal putrinya ke perbatasan. Raja Tikus sebenarnya khawatir dengan keselamatan Putri Titi. Tetapi, putrinya itu berhasil meyakinkannya.

Putri Titi kemudian berangkat dengan dikawal oleh dua prajurit terbaik. Ketika tiba di gerbang istana Kerajaan Kucing, putri yang baik hati itu sempat ditahan oleh para kucing.

“Hei, tikus kurang ajar. Berani sekali kamu datang ke istana kami!” seru seorang prajurit dari atas benteng istana yang sebenarnya berupa atap datar rumah di dalam gang.

Putri Titi bersikeras meminta masuk. Para penjaga gerbang sebenarnya hampir luluh dengan kecantikan Putri Titi, tetapi mereka takut oleh Ratu Sur. Tak lama kemudian Panglima Thomas diikuti ketiga panglima lainnya menghampiri keributan itu. Mereka sangat terkejut ketika mendapati Putri Titi yang cantik jelita di pintu gerbang.

“Apa yang bisa kami bantu, Tuan Putri?” sapa Thomas dengan hormat.

“Izinkan aku masuk untuk melakukan pertukaran,” pinta Putri Titi.

“Pertukaran seperti apa, Tuan Putri?”

“Aku ingin menukar prajurit kami yang ditawan dengan kalung lonceng emas ini.” Putri Titi memperlihatkan sebuah kalung kulit dengan lonceng emasnya.

Suara lonceng yang lembut membuat para kucing tergoda. Mereka seolah ingin berlari-lari bermain dengan bola lonceng itu. Putri Titi tersenyum melihat ketertarikan para kucing. Selain itu, dia memang yakin kalau prajurit tikus yang tertangkap itu hanya ditawan saja.

Panglima Thomas sangat terkejut dengan pernyataan Putri Titi. Dia akhirnya mempersilakan sang putri masuk ke istana. Aula istana sangat tegang ketika putri tikus itu masuk. Lebih tegang lagi ketika mereka mengetahui maksud kedatangannya.

“Perlihatkan hadiah yang akan ditukar dengan tawanan!” perintah Ratu Sur.

Putri Titi sekali lagi memperlihatkan kalung loncengnya. Ratu Sur sangat terpukau dengan suara lembut yang dikeluarkan oleh lonceng emas itu. Sang tuan putri memanfaatkan momen ini dengan cepat. Dia menawarkan bantuan untuk memasangkan kalung-kalung lonceng pada para kucing. Khususnya pada ratu, para panglima dan prajurit kerajaan kucing.

“Kalung ini sangat indah,” bisik sang ratu pada para panglimanya.

Para kucing sangat senang dengan hadiah kalung yang dibawa Putri Titi. Panglima Thomas pun dengan segera memerintah prajuritnya untuk membebaskan si prajurit tikus yang ditawan.

Putri Titi pulang ke kerajaannya dengan hati senang. Dia yakin sekarang rakyat Kerajaan Tikus tidak akan kelaparan.

 

Keesokan harinya, para tikus melancarkan lagi serangan ke Desa Keju. Menurut berita yang dibawa oleh mata-mata, toko pizza telah memesan keju bundar banyak sekali. Raja Tikus memerintahkan prajuritnya membawa keju untuk disimpan di gudang istana.

Para tikus yang bertugas merasa was-was ketika memasuki gang becek kekuasaan Kerajaan Kucing. Dari kejauhan bau keju sudah tercium oleh mereka. Tikus-tikus itu tidak melihat para kucing. Tetapi mereka dibekali nasehat Putri Titi yang menyatakan harus waspada ketika mendengar suara lonceng. Sementara itu para kucing telah mencium bau tikus dan bertekad menangkap mereka.

“Sepertinya aman,” bisik prajurit satu pada tikus yang lain. Dia memberi perintah pada seekor tikus untuk menyeberang dan menyelinap masuk ke gudang keju.

Ketika tikus yang diperintah itu hendak menyeberang, tiba-tiba terdengar denting lonceng.

“Tunggu!” perintah prajurit satu menahan temannya menyeberang. “Ada kucing di sini,” desisnya.

Tikus-tikus itu kemudian membuat rencana untuk memancing para kucing menjauhi gudang keju. Para tikus lalu bergantian saling menyeberang dengan cepat sambil menjauhi gudang keju. Para kucing melihatnya, dan berusaha menangkap mereka. Tetapi, setiap kucing-kucing itu bergerak, suara lonceng pun terdengar. Para tikus jadi mengetahui kapan para kucing bergerak hendak menangkap mereka. Ketika lonceng berbunyi, tikus-tikus itu bersembunyi di celah bawah peti kayu hingga para kucing kesulitan menangkap mereka.

Pada saat para kucing sedang sibuk berusaha menangkap tikus-tikus yang mempermainkan mereka. Dua prajurit tikus yang ditinggal di dekat gudang keju beraksi. Mereka menyeberang dengan cepat, masuk ke gudang. Kedua tikus itu naik ke rak penyimpanan keju dan mendorong keju bulat yang terdekat hingga jatuh menggelinding. Lalu, dengan hati-hati keduanya mendorong keju itu keluar gudang. Mereka terus mendorongnya hingga tiba di perbatasan Kerajaan Kucing dan Kerajaan Tikus.

Panglima Thomas sangat geram ketika menyadari telah diakali oleh para tikus. Dia telah berusaha mencopot kalung di lehernya dari tadi, tapi tidak berhasil. Panglima itu tahu kini kalau Putri Titi telah menyusun semua rencana ini.

“Putri cantik yang cerdik!” maki Thomas dengan geram sambil memandang keju yang menggelinding menjauhi gudang.

 

Para penghuni Kerajaan Tikus sangat gembira ketika para prajurit datang dengan membawa keju. Putri Titi seketika dieluk-elukan oleh rakyatnya. Raja Tikus sangat bangga dengan kecerdikan putrinya itu. Rakyat pun berseru-seru gembira mengelilingi keju bundar yang diarak keliling kerajaan.

“Hore! Hore! Sekarang kita tidak akan kelaparan!”

 

***

 

 

1 comment
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like