Ketika Wabah Corona Merekatkan Hati

Sama sekali tidak menyangka kalau akhirnya COVID 19 masuk ke Indonesia. Padahal awalnya saya yakin sekali dengan iklim tropis yang dimiliki negara ini virus itu tidak akan bisa menyebar. Tetapi, ternyata saya salah, Corona masuk tanpa disadari. Mungkin sudah jauh-jauh hari virus itu menginfeksi sebagian besar masyarakat Indonesia terutama Jakarta. Hanya saja kehadirannya terdeteksi lambat.

Pemahaman kita yang masih kurang akan virus ini menjadi penyebab lambatnya COVID 19 terdeteksi. Saya berasumsi banyak yang sakit tapi tidak lapor karena kurang paham dengan gejala-gejalanya. Untung saja antisipasi pemerintah cukup cepat walaupun menyakitkan. Menyakitkan karena ternyata kita harus mulai menjaga jarak untuk keselamatan bersama.

Tiba-tiba saja ketika physical distancing diterapkan saya merasa banyak kehilangan. Biasanya, keramaian kota membuat saya ingin menyingkir ke tempat sepi. Orang-orang yang lalu lalang juga sering membuat kepala pusing. Belum lagi penghuni kota yang masing-masing sibuk dengan dirinya sendiri. Anak-anak sekolah yang sering membuat isi angkot jengah dengan keberisikan mereka. Lalu, para pedagang yang ada hampir di setiap sudut kota dan selalu berhasil menguras isi dompet.

Ketika Corona membuat semua terpisah, saya baru sadar kalau selama ini kurang bersyukur. Ternyata yang saya lakukan selama ini hanya mengeluh saja. Jalanan yang macetlah, angkot yang susah–belum lagi kalau kembaliannya kurang, lalu lintas yang kacau, kerjaannya yang banyak. Malah ketika pulang ke rumah masih juga mengeluh dengan privasi yang kurang.

Lalu virus itu membuat semuanya berubah. Hiruk pikuk kota jadi diam sejenak. Anak-anak sekolah diliburkan, dan saya sungguh tidak menyangka akan merindukan suara celotehan mereka di angkot. Bahkan para pedagang yang jujur sering disalahkan atas jebolnya keuangan pun mendadak dirindukan. Yang menjengkelkan, ternyata saya rindu berlama-lama di kantor yang selama ini terasa membosankan. PD ini membuat saya bisa bersyukur masih memiliki pekerjaan, karena begitu banyaknya PHK.

Walaupun tidak libur sepenuhnya dan hanya bekerja separuh waktu. Tetap saya bersyukur karena masih bisa beraktivitas di kantor. Kasihan menonton pemberitaan orang-orang yang kena PHK. Jaga jarak yang harus dilakukan juga merembet ke rumah. Orang tua diasingkan sementara dari kita yang bisa saja menjadi carrier. Bahkan dengan anak saja semakin jarang mengobrol. Tetangga dengan tetangga jadi seperti tidak saling kenal saja cuma bertatapan dari jauh. Malah ibu-ibu yang belanja sayur pun jadi enggan saling berdesakan di dekat gerobak. Lucu rasanya melihat mereka mengantre sayur.

Jarak yang selama ini diam-diam saya dambakan malah dihadiahkan begitu saja oleh alam. COVID membuat kita harus menjaga jarak sampai beberapa waktu yang tidak ditentukan. Walaupun sebenarnya di dalam hati berdoa diam-diam agar di bulan Ramadan semuanya berakhir.

Anehnya, ketika jarak diciptakan dengan sengaja, saya mulai banyak merenung. Kita sebagai manusia memang terlalu sibuk dengan dunia. Semua jadi berjalan serba cepat karena begitu banyaknya yang harus dilakukan oleh kita. Waktu jadi buruan manusia, waktu disamakan dengan uang. Kehilangan waktu sama dengan kehilangan uang.  Lalu, jarak pun terbentang. Waktu jadi melambat dan membuat kita jadi bisa melihat banyak. Bumi pun seperti melambat berputar. Waktu dari pagi hingga petang jadi terlihat jelas sekarang, karena jarak yang diciptakan membuat kita jadi rehat dari segala kesibukan yang cepat.

Bahkan, bumi mulai menampakkan keindahannya kembali. Ketika kita beristirahat, bumi mendapatkan lagi haknya untuk bernapas. Polusi udara yang turun membuat serangga-serangga indah seperti kekupu dan capung beterbangan bebas. Udara jadi terasa lebih ringan dan bebas. Jarak yang terjadi karena PD membuat jarak yang tercipta tanpa sengaja karena kesibukan jadi samar. Anak-anak dan orang tua yang selama ini jarang bertemu jadi memiliki banyak waktu bercengkrama karena jarak ini.

Saya malah jadi merasa lebih dekat dengan orang-orang karena pemberlakuan PD ini. Setiap berjumpa dengan orang, baik yang dikenal maupun yang tidak pasti saja menyempatkan diri untuk menyapa. Menanyakan keadaan keluarga dan juga saling mendoakan agar selalu sehat semuanya. Jarak yang sengaja diciptakan ini memang membuat kita terpisah dalam hal tertentu, tetapi juga membuat dekat dalam hal lainnya.

Jarak memang tentang terbentangnya ruang antara kita, tetapi dia juga yang menyempitkan perbedaan dan mengubahnya jadi empati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like