Berbagi Kebaikan Dari Rumah

Berteman dengan orang-orang yang sejalan dengan visi dan misi kita memang sangatlah penting. Seperti yang saya alami dalam beberapa tahun terakhir ini. Sebuah pengalaman yang didapat bukan tanpa disengaja. Diawali dari rasa ingin tahu dan ingin berkembang, lalu ditambah ingin menambah ilmu, saya pun menemukan mereka. Teman-teman yang memiliki tujuan sama, yakni banyak berbagi dengan sesama.

Saya selalu yakin, ilmu akan membawa kita ke jalan kebaikan. Ketika menemukan komunitas Ibu Profesional saya sangat gembira. Pada waktu itu memang niatnya ingin menambah ilmu seputar keluarga dan parenting. Saya merasa mendapatkan wadah yang tepat ketika bergabung dengan komunitas ini. Terlebih lagi karena ternyata di dalamnya terdapat beberapa divisi dan rumah belajar sesuai dengan passion dari anggotanya.

Sungguh saya kagum dengan profesionalitas yang ada di komunitas ini. Para anggotanya yang notabene terdiri dari para ibu ini–sama sekali menghapus stigma tentang wanita dasteran dari kepala saya. Mereka wanita-wanita yang hebat. Walaupun berada dalam rumah tetap menunjukkan kapasitas wanita yang berilmu. Ibu Profesional ini memang wadah yang tepat untuk para wanita yang ingin mengembangkan diri. Hal itu ditandai pula dengan adanya matrikulasi dan perkuliahan bagi para anggotanya.

Di komunitas ini saya akhirnya bergabung dengan divisi Sejuta Cinta. Sejuta Cinta adalah singkatan dari Sedekah Jumat Untuk Tanah Air Tercinta, unik bukan? Menyenangkannya, kami yang tergabung di divisi ini jadi dilatih lebih peka dengan keadaan orang lain. Banyak sekali kegiatan yang biasa dilakukan. Selain berkunjung ke beberapa tempat dengan niatan berbagi, seperti ke Rumah Cinta tempat singgah anak-anak penderita kanker, kami juga memiliki kegiatan rutin.

Berkumpul di alun-alun

Sesuai dengan namanya, setiap hari Jumat ada kegiatan berbagi yang dilakukan. Kegiatan berbagi ini dilakukan di beberapa tempat secara bergiliran. Kami biasanya membagikan kotak nasi kepada orang-orang yang terlihat membutuhkan di lokasi yang telah ditentukan. Menyenangkan sekali bisa berbagi dengan orang-orang yang membutuhkan tanpa memandang kasta atau pun agama. Selain kegiatan berbagi bersama di hari Jumat. Kami juga membiasakan diri berbagi secara individual di lingkungan masing-masing. Jadinya kegiatan Sejuta Cinta ini selalu berkelanjutan.

Membagikan nasi kotak

Yang membekas di ingatan saya ketika Sejuta Cinta mengulurkan bantuan kepada seorang bapak yang menderita kanker paru-paru. Bapak itu bukan muslim, demikian juga keluarganya. Tetapi, karena keadaannya yang memprihatinkan tanpa ada yang merawat, akhirnya warga sekitar pun turun tangan. Ketika saya mendatangi rumah beliau, yang pertama kali tercium adalah bau menyengat. Keadaan rumahnya pun tidak layak disebut rumah. Serbuk gergaji malah sengaja ditabur di lantainya untuk meredam bau tak sedap yang tercium. Hanya ada satu ruangan di dalam rumah bapak itu dengan satu tempat tidurnya. Keadaan beliau sendiri sangat memprihatinkan. Luka menganga ada di dadanya akibat dari kanker yang tengah diderita. Tidak bisa dibayangkan bagaimana dia merawat dirinya dengan keadaan lemah seperti itu.

Bantuan untuk bapak penderita kanker paru

Untungnya, warga sekitar berinisiatif membangun rumah yang ditinggali bapak itu. Ketika kami datang untuk memberikan bantuan, halaman luar sedang digarap oleh mereka. Pondasi untuk rumah baru sedang disiapkan oleh warga. Berkat inisiatif seorang warga yang mengunggah kondisi bapak tersebut ke media sosial, bantuan demi bantuan pun berdatangan. Dana yang terkumpul itu kemudian dipakai warga untuk memperbaiki tempat tinggal beliau.

Ketua RT menyebutkan kalau bapak itu sudah jarang ada yang mengurus, karena sebagian besar keluarga yang ada juga sama-sama tidak mampu. Jadinya, merupakan tanggung jawab warga untuk meringankan bebannya.

Di tengah pandemi covid 19 yang tidak menentu seperti sekarang ini, sebenarnya momen yang tepat untuk berbagi. Menurut saya covid tidak melulu tentang keburukan, ada hal baik lain yang muncul juga karenanya. Sekarang satu sama lain jadi terasa semakin dekat, padahal tidak saling mengenal. Bahkan, kalau sedang dalam perjalanan ke kantor sering saya saling mengingatkan untuk memakai masker dan menjaga jarak. Saling menyapa dan menanyakan kabar kesehatan keluarga juga jadi hal yang sering terlihat sekarang di antara orang-orang. Jarak yang sengaja diadakan ternyata malah meniadakan jarak yang tanpa kita sadari tercipta karena kesibukan masing-masing.

Karena Phisycal Distancing membuat gerak kita terbatas, bukan berarti kebaikan berbagi pun jadi terhambat. Menyalurkan kebaikan dengan zakat melalui Dompet Dhuafa http://dompetdhuafa.org bisa jadi solusi yang terbaik untuk menanggulanginya. Kita masih bisa terus menebar kebaikan dengan aplikasi online Dompet Dhuafa yang sangat memudahkan penggunanya. Tidak perlu repot menyiapkan APD demi keluar rumah, cukup dengan klik aplikasinya, kebaikan pun akan tersebar walau dari rumah.

Sekali lagi, berbagi kebaikan itu tidak memandang kasta dan agama. Bahkan, dengan keadaan yang serba genting seperti saat ini jangan menyebabkan kebaikan berhenti pada diri kita sendiri. Hal yang menakjubkan bahkan sering saya lihat pada saat pandemi covid ini. Belum lama ini, bos saya membagikan masker gratis dari gereja kepada para pengemudi ojek online. 200 masker gratis habis dengan cepat. Betapa kesulitan yang tengah dihadapi menjadikan hati setiap orang melembut, empati pun jadi terpicu.

Berbagi tidak hanya soal materi, tapi juga dengan saling berempati

 

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Menebar Kebaikan yang diselenggrakan oleh Dompet Dhuafa”

 

 

 

5 comments
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like