Cabai Pak Petani

Pada suatu hari, si kura-kura lewat di depan kebun pak petani. Kura-kura sangat terkejut ketika menyadari kalau buah-buah cabai yang ada di kebun telah matang. Buah cabainya sampai tergantung rendah di dahan saking berat karena matang. Warnanya juga merah mencolok, membuat air liur menetes.

“Si Monyet harus dikasih tahu, nih!” ucap kura-kura semangat.

Kura-kura pun bergegas menuju hutan tempat dia dan si monyet tinggal. Biasanya, tengah hari seperti ini sahabatnya itu sedang tidur siang di bawah pohon. Benar saja, kura-kura menemukan si monyet sedang tidur nyenyak dengan tubuh melingkar di dekat pohon besar.

“Hei, Monyet, bangun!” serunya sambil mengguncang-guncang tubuh sahabatnya itu.

Monyet bangun dengan kesal, “Ada apa, sih?” protesnya, “Lagi nyenyak tidur, nih.”

Kura-kura tidak mempedulikan kekesalan si monyet. “Buah cabai si petani sudah pada matang, lho!” serunya.

“Wah, yang benar?” Si Monyet langsung tersadar dari kantuknya.

“Kalau tidak cepat-cepat, pasti keburu habis dipanen Pak Petani,” ucap kura-kura lagi.

Si monyet langsung menegakkan tubuhnya. Kalau soal makanan dia memang paling gesit di antara mereka berdua.

“Ayo, cepat ke sana kura-kura! Jangan ngomong melulu.”

Monyet pun cepat-cepat berjalan meninggalkan hutan menuju kebun pak petani. Kura-kura menggerutu dalam hati ketika tertinggal jauh. Secepat apapun dia berjalan, tetap saja lambat menurut binatang yang lainnya.

Tak lama kemudian kedua sahabat itu tiba di kebun pak tani. Monyet langsung gembira ketika melihat warna cabai yang merah. Kebun masih terlihat sepi, pasti pak petani sedang makan siang di rumahnya.

“Aduh, pasti rasanya segar sekali,” bisiknya.

Kura-kura berdesis agar si monyet tidak banyak bicara. “Jangan berisik nanti pas makan. Kemarin saja kita hampir ketahuan.”

Si monyet hanya nyengir mendengar peringatan kura-kura. “Tenang saja. Aku pasti tidak akan berisik,” ucapnya tegas.

Sebenarnya si kura-kura kurang yakin dengan perkataan si monyet. Tetapi karena perutnya sudah lapar, dia hanya bisa mengangguk saja. Si kura-kura dan si monyet pun mulai memetik buah cabai yang sangat menggoda warnanya itu. Pertama-tama mereka memetik satu, rasanya manis menyegarkan. Kemudian keduanya mulai memetik dua-dua, rasanya pun masih tetap sama. Lama kelamaan sifat rakus si monyet muncul. Dia mengambil lebih banyak dan langsung memakannya habis.

Karena takut cabainya habis oleh si kura-kura, monyet lalu memetik semakin banyak lagi.

“Ini enak sekali. Mmm… enak sekali,” ucapnya dengan mulut penuh dan suara tak jelas.

“Hei, jangan makan terlalu banyak! Nanti lidahmu terbakar!” desis kura-kura memperingatkan.

Belum lama si kura-kura mengingatkan sahabatnya, tiba-tiba si monyet melompat-lompat panik. Wajahnya berubah jadi merah, lidahnya terjulur, dan airmatanya mengalir deras. Monyet melompat-lompat sambil berteiak-teriak.

“Haaaahhh pedas … haaaaahhh pedaaas,” teriaknya berulang kali.

Si kura-kura sangat terkejut mendengar teriakan monyet. Badannya langsung gemetar karena takut ketahuan pak petani. Sialnya, pak petani yang sedang makan memang mendengar keributan di kebun. Dia pun melempar piringnya dan langsung berlari ke kebun.

“Hei! Dasar binatang-binatang kurang ajar!” teriak pak petani sambil mengacungkan goloknya yang tajam.

Si monyet ketakutan melihat pak petani lari ke arah mereka dengan marah. Tanpa menunggu lagi dia pun langsung melarikan diri ke hutan, meninggalkan si kura-kura. Sungguh kasian si kura-kura tak bisa berlari cepat. Pak petani dengan mudahnya bisa menangkap kura-kura yang tengah terengah-engah kecapaian.

“Kena kamu! Rupanya selama ini kalian yang mencuri cabai-cabaiku.” Pak Petani memelototi kura-kura. “Sebagai gantinya besok kau kusembelih!”

Kura-kura menangis ketakutan mendengar ancaman pak petani. Dia marah sekali pada monyet yang jadi penyebab dirinya tertangkap. Kura-kura juga kecewa karena monyet meninggalkannya sendirian.

Pak petani dibantu oleh istrinya mengurung si kura-kura dalam kandang ayam yang kosong.

“Memang daging kura-kura enak, Pak?” tanya istri petani sambil mengamati si kura-kura.

“Pasti enak. Lihat saja badannya gemuk seperti itu,” jawab pak petani puas. Membayangkan besok bisa balas dendam pada si kura-kura.

Si kura-kura terus menangis sepanjang malam. Dia tahu berteriak minta tolong pun akan percuma. Semua hewan takut pada pak petani dan goloknya yang tajam.

Sementara itu, si monyet mulai merasa tak enak hati. Dia bertanya-tanya dalam hati bagaimana keadaan si kura-kura sekarang.

“Lagian, jalannya lambat sekali. Jadi tertangkap pak petani, deh,” gerutunya.

Tetapi rasa penasaran akhirnya membuat si monyet kembali ke kebun untuk melihat keadaan kura-kura. Monyet yakin si kura-kura pasti sedang menangis ketakutan sekarang. Si kura-kura yang memang sedang sedih dan takut melihat kedatangan monyet. Otaknya yang pintar langsung menyusun sebuah rencana agar dia bisa keluar dari kurungan. Dia ingin memberi pelajaran pada monyet yang telah meninggalkannya begitu saja. Kura-kura yakin rencananya ini akan menguntungkan mereka berdua.

“Senangnya hatiku … bahagianya hatiku … tralala tralala.” Si kura-kura mulai bernyanyi riang.

Si monyet keheranan mendengar kura-kura yang bernyanyi riang. Padahal dia yakin sekali kura-kura sedang bersedih.

“Kenapa kamu senang sekali?” tanya monyet penasaran di hadapan kurung si kura-kura.

“Karena aku akan menikah dengan putri Pak Petani,” jawab kura-kura ringan.

“Mana mungkin kamu akan dinikahkan!”

“Mungkin saja karena putri Pak Petani jatuh hati padaku.”

Kura-kura senang melihat monyet yang iri padanya. Dia pun meneruskan nyanyiannya. Monyet sama sekali tidak mengira kura-kura akan seberuntung itu. Sifat tamaknya pun muncul, monyet berniat mengambil alih kurung si kura-kura.

“Kelihatannya kurunganmu itu nyaman,” ucap monyet setengah merayu.

Kura-kura tersenyum dalam hati. Dia tahu umpannya telah berhasil. “Tentu saja. Ini kurungan terbaik di dunia,” jawabnya.

“Bolehkah aku mencobanya sebentar?” rayu monyet.

“Tentu saja. Tapi jangan lama-lama.”

Monyet lalu membuka kunci selot kurungan dan membiarkan kura-kura keluar kandang. Ketika sudah di dalam, dia merogoh kunci selot, lalu mematahkannya.

“Haha. Sekarang kau tidak akan bisa masuk lagi ke dalam kurungan.” Si monyet tertawa jahat.

Kura-kura tertawa dalam hati menyadari kelicikan si monyet. Lalu dia pun pura-pura menangis. Sementara si monyet malah terus menertawakannya. Kura-kura pun meninggalkan kebun dengan lunglai yang dibuat-buat. Padahal hatinya senang sekali bisa lepas dari kurungan. Sekarang tinggal menunggu nasib si monyet seperti apa.

Pak petani senang sekali hari ini akan makan daging kura-kura. Dari pagi dia telah mengasah goloknya hingga tajam. Sedangkan istrinya menyiapkan semua bumbu yang akan digunakan untuk memasak nanti. Keduanya sudah membayangkan daging kura-kura yang empuk dan enak.

Ketika matahari agak tinggi, pak petani dan istrinya segera pergi ke ladang untuk menyembelih si kura-kura. Betapa terkejutnya mereka ketika melihat si monyet yang berada dalam kurungan.

“Eh, kenapa jadi monyet yang di dalam kurungan?” teriak pak petani terkejut hingga goloknya jatuh ke tanah.

“Daging monyet mana enak dibuat sup, Pak!” seru istri pak petani kecewa.

Monyet terkejut mendengarnya. Ternyata si kura-kura telah menipunya. Badannya langsung panas dingin karena ketakutan. Cahaya matahari yang memantul di golok membuat monyet semakin ketakutan.

“Celaka! Aku ditipu oleh si kura-kura!”

Pak petani dengan geram menghampiri kurungan dan membuka paksa kuncinya dengan golok.

“Biarlah tak ada daging kura-kura, daging monyet pun jadi,” gerutu pak petani.

Sebenarnya dia tak sungguh-sungguh dengan ucapannya tersebut. Ketika pintu kurungan dibuka, pak petani sengaja membiarkan si monyet keluar melarikan diri. Sementara itu, monyet sangat ketakutan ketika pintu kurungan dibuka. Pada saat dilihatnya pak petani agak lengah, dia pun lari keluar kurungan secepat kilat.

Monyet berlari terus hingga ke dalam hutan. Kura-kura terpingkal-pingkal ketika melihat sahabatnya itu berlari secepat mungkin. Kura-kura yakin, monyet jera dan tidak akan mengulangi lagi segala perbuatannya.

Demikianlah cerita si kura-kura dan si monyet. Dua sahabat yang selalu bekerja sama sekaligus bersaing. Cerita ini penulis ceritakan kembali dari dongeng berbahasa Sunda.

 

***

 

 

3 comments
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like