Serigala dan Telur Busuk

Kali ini serigala benar-benar merasa lapar. Ia sudah berkeliling hutan berkali-kali tetapi tetap saja tidak mendapatkan makanan. Serigala mulai putus asa, badannya pun terasa lemas sekali. Belum lagi sinar matahari yang terik membuat kepalanya kepanasan. Serigala merasa pusing karena lapar dan lelah. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk istirahat di bawah sebuah pohon rindang di tepi hutan.

Setelah beberapa lama bersandar pada batang pohon, tiba-tiba serigala melihat ada sarang burung di dahannya. Ternyata itu adalah sarang burung puyuh. Serigala mendengar si burung puyuh sedang berkeluh kesah di sarangnya.

“Aduuh … aduuh … perutku lapar sekali,” rintih burung puyuh memelas.

Suara burung puyuh lemas sekali, serigala yakin kalau si burung pun sama sedang kelaparan seperti dirinya.

“Hei, burung puyuh yang baik. Sepertinya kamu sedang lapar, yah?” seru serigala.

Burung puyuh mengintip dari sarangnya, ia terkejut ketika melihat si serigala. “I iya. Aku memang lapar, tapi di sini sudah sulit makanan.”

“Ada hutan di sebelah timur yang masih banyak makanannya.” Serigala pun dengan licik menceritakan hutan yang dimaksud olehnya.

Burung puyuh langsung terbang turun mendengar perkataan serigala. “Di mana tempatnya?” serunya sambil hinggap di dahan.

“Sebelah timur sana!” Serigala menunjuk arah timur sambil tersenyum licik.

“Tapi, bagaimana dengan telur-telurku?”

Aha! Tepat inilah yang diinginkan si serigala. Ia sudah yakin kalau burung puyuh sedang mengerami telur-telurnya.

“Biar aku saja yang menjaga telur-telurmu.” Serigala menawarkan bantuan pada burung puyuh.

Sejenak burung puyuh terlihat ragu-ragu, tapi rasa lapar membuatnya mengambil keputusan yang kurang hati-hati.

“Baiklah kalau kamu bersedia menjaga sarangku.”

Serigala senang sekali ketika burung puyuh terbang ke arah timur dan meninggalkan telur-telurnya. Kemudian ia mulai memanjat pohon untuk mengintip sarang si burung puyuh. Betapa senangnya serigala ketika melihat telur-telur segar di dalam sarang. Lalu ia pun memakan semua telur itu dengan lahap. Setelah makan, perut serigala masih terasa lapar, karena ternyata telur burung puyuh itu kecil-kecil.

“Tapi lumayanlah untuk mengganjal perut,” ucap serigala sambil terkekeh-kekeh.

Sementara itu burung puyuh tidak mendapatkan makanan yang ia harapkan. Ternyata hutan yang ditunjuk si serigala lebih gersang lagi. Ia pun terbang pulang dengan kecewa ke sarangnya. Betapa terkejut burung puyuh ketika mendapati telur-telurnya telah hilang.

“Kemana telur-telurku?” tangisnya di dalam sarang.

“Telurmu hilang? Kok, bisa?” Serigala bertanya dari bawah, pura-pura tidak tahu.

“Serigala jahat! Pasti kamu yang memakan telur-telurku!”

“Mana mungkin aku memakan semua telurmu yang kecil-kecil itu. Mana buktinya?” kelit serigala.

Burung puyuh sadar ia tidak memiliki bukti kalau serigala yang memakan semua telurnya. Akhirnya, burung malang itu pun hanya bisa menangis sedih.

Sementara itu si serigala merasa senang karena perutnya tidak terasa terlalu lapar. Ia pun mulai mencari-cari makanan lagi sambil menyusuri tepi hutan. Tak jauh dari tempat si burung puyuh ada sarang burung merpati. Serigala melihat kalau burung merpati juga sedang mengerami telurnya. Otaknya yang licik langsung mencari jalan untuk mengakali burung merpati.

“Kelihatannya telur-telurmu sudah akan menetas,” sapanya dari bawah pohon.

Burung merpati berdekut lembut sebelum menjawab pertanyaan serigala. “Sebenarnya masih agak lama dari waktu matahari terbenam,” jawab merpati.

“Kamu pasti membutuhkan makanan yang banyak untuk anak-anakmu nanti,” pancing serigala.

Merpati mengangguk setuju. “Sayangnya, makanan di hutan ini sedang sulit. Hari ini saja aku belum makan.”

Serigala langsung menjalankan rencananya ketika mendengar perkataan burung merpati. “Di hutan sebelah timur sana ada banyak sekali makanan,” ucapnya sungguh-sungguh.

“Benarkah?” tanya merpati sambil mengembangkan sayapnya.

“Aku lihat bahkan ada ladang jagung yang luas di dekat hutannya.”

Merpati memekik gembira mendengarnya. “Tapi aku tak bisa meninggalkan telur-telur ini,” ucapnya kecewa.

“Biar aku saja yang menjaga telur-telurmu.” Serigala langsung mengajukan diri begitu mendengar perkataan merpati.

Rasa lapar lagi-lagi membuat burung yang satu ini pun kurang hati-hati. Merpati senang karena ia akan mendapatkan jagung.

“Baiklah kalau begitu. Jaga baik-baik telurnya, Serigala.”

Burung merpati pun bergegas terbang ke arah timur sesuai petunjuk dari serigala. Serigala tertawa licik ketika melihat burung merpati terbang penuh semangat. Lalu, tanpa menunggu lebih lama lagi ia pun mulai memanjat untuk memakan semua telur yang ada. Serigala senang karena sekarang perutnya sudah agak kenyang. Telur merpati ternyata lebih besar dari telur burung puyuh.

Burung merpati sangat kesal ketika mendapati ladang jagung yang diceritakan serigala ternyata kering kerontang. Tidak ada sebutir jagung pun yang tersisa di ladang itu. Karena tidak mendapatkan makanan, ia pun terbang pulang ke sarangnya. Sebenarnya merpati agak curiga dengan gelagat serigala tadi, hatinya tidak tenang meninggalkan telur-telur di sarang.

Benarlah, ketika merpati tiba di sarang, ia tidak mendapati satu butir telur pun di dalamnya. Langsung saja kecurigaannya tertuju pada serigala yang sedang menjaga di bawah pohon.

“Hei, serigala! Berani sekali kamu makan semua telurku!”

Serigala pura-pura bingung mendengar tuduhan merpati. “Bagaimana mungkin aku selicik itu,” bantahnya, “Lagipula mana buktinya?”

Merpati terdiam, menyadari tidak adanya bukti yang bisa dipakai untuk menyudutkan serigala. Tidak ada saksi yang bisa membuktikan kalau memang si serigala yang memakan semua telurnya. Merpati tidak bisa apa-apa ketika serigala meninggalkannya dengan penuh kemenangan. Padahal ia yakin serigala licik itu yang memakan telurnya.

Saat merpati tengah bersedih, lewatlah si burung puyuh yang sedang menangis. Merpati iba pada burung puyuh, ia pun terbang turun dan menyapanya. Sungguh terkejut hatinya ketika mendengar cerita burung puyuh tentang serigala dan telur-telurnya yang hilang. Ceritanya hampir mirip dengan kejadian yang menimpanya tadi.

“Sudah kuduga pasti serigala licik itu yang merencanakan ini semua!” seru merpati geram.

Burung puyuh menyeka airmatanya, “Benarkah yang kamu katakan itu?”

“Aku yakin benar. Sebaiknya kita minta tolong si Kancil saja,” usul merpati kemudian.

Burung puyuh setuju dengan usul merpati. Kemudian mereka berdua pun bergegas mencari kancil ke dalam hutan. Si kancil sangat tertarik ketika mendengar cerita kedua burung itu. Hewan cerdik itu lantas berpikir dengan cepat.

“Kita harus membalas kelicikan Si Serigala,” ujar kancil, “Kira-kira kemana Serigala pergi, yah?”

“Aku melihatnya menyusuri tepi hutan,” jawab merpati yakin.

“Kalau begitu tepat sekali dengan yang aku rencanakan. Ayo, cepat kita cari Burung Unta!” perintah kancil sambil memberi isyarat pada kedua burung itu untuk mengikutinya.

Burung merpati dan burung puyuh mengikuti kancil mencari teman mereka si burung unta ke tepi hutan sebelah barat. Burung unta sering bermain di padang rumput dekat hutan. Mereka menemukan burung unta sedang membersihkan telur-telurnya. Kancil kemudian menyapanya dan menceritakan nasib kedua burung malang yang mengikutinya. Burung unta sangat prihatin ketika mengetahui telur-telur kedua burung itu hilang.

“Jadi yang harus kita lakukan sekarang adalah menjebak si serigala,” celetuk burung unta setelah mendengar cerita kancil dan rencananya.

“Betul,” jawab kancil semangat, “Usahakan dia memakan telurmu yang kemarin itu.”

Burung unta terkekeh-kekeh mendengar ucapan si kancil. Sedangkan burung merpati dan puyuh hanya bisa melongo saja melihat tingkah kedua temannya itu.

“Si serigala pasti sebentar lagi tiba di tempat ini. Tadi parkit membawa kabar kalau hewan licik itu tertidur di semak-semak.”

Keempat hewan itu pun akhirnya membubarkan diri. Burung unta ditugasi menunggu kedatangan serigala di dekat sarangnya. Tidak lama kemudian serigala benar-benar datang. Burung unta yang melihatnya dari kejauhan langsung berpura-pura menangis.

“Lapar sekali huhuhu … lapar sekali.” Demikan terus berulang-ulang sampai menarik perhatian serigala.

Serigala senang ketika melihat burung unta dan sarangnya. Ia dari tadi memang sedang mencari sarang yang ada telur-telurnya lagi.

“Kenapa kamu menangis wahai temanku?” tanyanya pura-pura iba.

Burung unta pun menghentikan tangisannya seketika. “Aku lapar sekali, tapi sudah tidak ada yang bisa dimakan di sini,” jawabnya, lalu kembali menangis.

“Kamu jangan sedih. Ada hutan di arah timur sana yang masih penuh dengan makanan.”

“Benarkah?” tanya burung unta sambil sesegukan.

Serigala mengangguk, meyakinkan si burung unta. Matanya yang kuning melihat sebuah telur yang sangat besar di tengah-tengah sarang. “Wah, perutku bakal kenyang sekali kalau makan telur itu,” bisiknya dalam hati.

“Tapi, bagaimana dengan telurku?” tanya burung unta sedih.

Serigala pun tersenyum licik. “Jangan khawatir, aku akan menjaga telurmu.”

Burung unta menyetujui tawaran si serigala. Ia meninggalkan sebutir telurnya untuk dijaga binatang licik itu. Serigala sangat senang karena mendapatkan telur yang sangat besar. Ketika dilihatnya si burung unta sudah cukup jauh, ia pun langsung memecahkan telur. Serigala mencium bau yang tidak enak ketika memecahkan telur bagian atasnya. Tetapi, karena sangat rakus, serigala tidak mempedulikan bau itu. Ia lalu memakan seluruh telurnya walaupun sangat tidak enak. Perut serigala langsung kenyang saking besarnya telur yang ia makan.

Tanpa sepengetahuan serigala, burung unta, kancil, puyuh, dan merpati mendatanginya diam-diam. Mereka memergoki si serigala sedang membersihkan mulut dengan air di kubangan dekat sarang.

“Hei, serigala! Kau apakan telurku?” teriak burung unta geram.

Serigala sangat terkejut melihat keempat binatang itu berdiri mengelilingi dirinya dengan marah.

“Aku tidak berbuat apa-apa pada telurmu,” jawab serigala agak takut.

Kancil langsung maju mendekati binatang licik itu. “Aku yakin kamu memakan telur burung unta!” sergahnya geram.

Serigala tertawa, “Mana buktinya?” bantahnya lagi.

Serigala yakin kalau si kancil tidak akan bisa membuktikan perbuatannya. Ia pun tersenyum lebar karena merasa menang. Tetapi, tiba-tiba serigala merasakan ada yang aneh dengan perutnya. Rasa panas membuat perutnya kembung. Serigala jadi mual dan pusing karenanya. Tak lama kemudian serigala pun muntah-muntah. Cairan yang keluar dari mulutnya berbau sangat busuk.

“Nah, itu dia buktinya!” seru burung unta gembira. “Telur yang kamu makan tadi sudah busuk, itu sebabnya sekarang jadi muntah-muntah.”

Si kancil, merpati, dan puyuh tertawa senang melihat serigala yang sibuk muntah. Bau tidak sedap pun tercium oleh mereka, dan itu sudah jadi bukti yang cukup untuk mereka. Serigala akhirnya memohon ampun kepada mereka berempat. Ia mengakui segala perbuatannya, dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Serigala berjanji akan berusaha jujur dari sekarang. Kancil, burung unta, merpati, dan puyuh berusaha mempercayai perkatan si serigala. Tetapi, benarkah serigala akan menepati janjinya untuk tidak berbuat licik lagi?

 

 

***

 

 

 

4 comments
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like