Menggali Potensi Diri Di Era New Normal

Tidak disangka sudah berbulan-bulan lamanya kita mencoba menerima keberadaan pandemi Covid-19 ini. Di awal keberadaan virus ini kehidupan seolah diputar 360 derajat. Ruang lingkup yang jadi terbatas, bekerja dari rumah, sekolah dari rumah, semua kegiatan kita jadi berputar di area rumah saja.

Bosan? Sudah pasti rasa itu ada. Apalagi bagi kita-kita yang biasanya bergerak bebas di luar rumah. Tiba-tiba harus terkurung di ruang gerak yang terbatas pastinya membuat mood sering berubah-ubah. Saya merasakan benar hal itu ketika ingin pergi ke suatu tempat. Ternyata keinginan itu tidak bisa dilakukan karena tempatnya ditutup sementara.

Jadi membayangkan kucing di rumah yang hanya boleh main di dalam saja jadinya. Mungkin seperti itu juga yang dirasakan kucing-kucing itu, bebas tapi tidak bebas. Perasaan bosan dan terkurung itu lumayan mempengaruhi semangat yang ada. Kalau kata orang Sunda mah hoream (malas) tengah melanda. Yup, perasaan malas melakukan segala sesuatu cukup merepotkan juga ternyata.

Tetapi, dibalik itu semua ada perasaan jangan terlalu lebay dengan keadaan. Toh, diam di rumah itu bukan berarti akhir segalanya. Justru ada banyak hal yang selama ini tidak bisa dilakukan jadi bisa dilakukan. Selama era PSBB hingga Adaptasi Kebiasaan Baru ini saya akhirnya menemukan hal-hal yang selama ini tidak sempat dilakukan.

Memelihara Kucing

Hobi dari kecil yang terlupakan sama sekali itu memelihara kucing. Padahal dulu sempat punya kucing 13 ekor. Karena sibuk bekerja dan hal lainnya, kesenangan itu jadi terlupakan. Bukan apa-apa sebenarnya, hanya saja saya takut tidak bisa merawat kucing dengan baik apabila sambil bekerja.

Padahal memelihara binatang peliharaan itu termasuk salah satu cara self healing. Saya merasakan sekali manfaatnya ketika memutuskan untuk mulai memelihara kucing lagi. Ternyata diperhatikan dan memperhatikan adalah sebuah proses penyembuhan kekosongan hati.

Senang sekali karena bisa kembali memelihara kucing. Ada sebuah hubungan yang tidak bisa diungkapkan antara majikan dan hewan peliharaannya. Tetapi yang pasti adalah adanya unsur keterikatan. Dengan kata lain saling menyayangi. Jadinya merasa punya teman lagi, ada si kucing yang menemani di setiap waktu.

Kucingku Shiroi

Menanam Tanaman

Saya selalu ingin menanam bunga atau sebangsanya, tapi tidak pernah waktu untuk melakukannya. Kebetulan sekarang waktu luang di siang hari cukup banyak. Saya jadi belajar banyak tentang tanaman dan cara menanamnya dari Ibu Wiwi.

Beliau mengajarkan tentang hidroponik. Tentang membuat pupuk dan pestisida dari bahan-bahan yang ada di sekitar rumah. Bu Wiwi juga mengajarkan hal yang unik, menanam di cangkang telur yang telah dijemur terlebih dahulu. Memang saya belum selihai beliau, tapi setidaknya sudah mencoba menanam biji cengek domba.

 

Fotografi

Hal lain yang saya gali dari dalam diri adalah kesukaan mengabadikan momen. Selama new normal ini saya jadi punya banya waktu untuk menangkap beberapa objek lalu mengabadikannya. Bukan objek yang rumit atau pun jauh. Cukup yang ada di sekitar rumah saja seperti bunga, buah, atau binatang.

 

Stroberi

Masak Camilan

Hal lain yang saya coba lakukan lagi adalah hobi masak dan membuat camilan. Karena sekarang ada Dapur Teba, tempat jualan baru, jadinya banyak belajar masak dan buat camilan. Memasak itu lumayan membuat jenuh hilang, dan pastinya jadi mengembangkan kreativitas.

 

Pisang bakar

Beberapa hal di atas saya biasakan lagi di era new normal ini sambil menunggu segala aktivitas benar-benar normal seperti sedia kala lagi. Ternyata hal yang kita anggap menyulitkan pun masih ada sisi baiknya.

Seperti pandemi ini, ruang gerak memang jadi terbatas. Tetapi bukan berarti kreativitas jadi ikut terbatas. Seperti menulis dengan tema yang sama dengan anggota BHB ini pun salah satu penggalian kreativitas. Tetap berkarya kawan, jangan kalah oleh keadaan

 

Tulisan ini adalah kolaborasi dengan Bandung Hijab Blogger

 

 

 

17 comments
  1. Noted bangeut itu kucingg hahah, dirumah aku ada kucing baru abu namanya, setelah beberpaa waktu lalu kami ditinggal jumi karena sakit hiks, samaaan kita teh

  2. Aku dulu sempat punya 9 ekor kucing, trus ada meninggal, dikasiin atau pergi krn ibunya meninggal. Terkahir punya 1 ekor kucing umur 11 tahun, trus dia pergi gak balik lagi kayaknya meninggal…sedih soalnya udh kayak kekuarga kan yaa 11 tahun gitu loh. Jd akr lagi gak mau oelihara kucing,paling klo ada kucing mampir dikasih makan aja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like