Naik Sepur ke Cianjur

Hai hai, ceritanya aku mau nyoba sesuatu yang baru, nih. Setelah berbulan-bulan bete habis karena ruang gerak terbatas, akhirnya senin kemaren bisa bebas lagi huhuy.

Sebenernya sempet ragu juga, sih. Jangan-jangan bus engga ada, atau parahnya lagi harus pake surat ini itu. Padahal tujuannya juga engga jauh, cuma ke Sukabumi.

Namanya juga baru keluar dari batok, wajar dong kalau jadi banyak pertanyaan. Nah, singkat cerita aku tuh berangkat ke terminal Leuwi Panjang. Sempet kaget juga pas liat banyak lahan yang ditutup.

Ternyata selama pandemi aku bener-bener jadi kudet, hadeh. Sampai enggak tahu kalau terminal Bus ini lagi renovasi. Setelah melongo beberapa saat melihat perubahan di terminal, aku pun turun di tempat biasa.

Aku selalu mengambil jalan dari bagian belakang terminal. Dekat bus-bus kecil yang ke Antapani atau Majalaya ngetem itu, loh. Pan dekat situ ada pintu masuk yang kecil, sebelahnya toilet umum.

Setelah puas tengok kanan kiri, aku pun langsung ke tempat bus Sukabumi ngetem. Alhamdulillah langsung dapat bus MGI. Bus warna biru ini memang selalu jadi favorit kalau pergi ke Sukabumi.

Eh, ternyata pas naik aku dapat tempat duduk di belakang supir. Huhu, tempat favorit banget, soalnya bisa liat pemandangan jelas. Nah, pas baru duduk aku langsung penasaran sama tarif busnya. Soalnya tadi pas naik sama sekali enggak dicek suhu tubuh. Cuma semua penumpang pake masker, sih.

Ada ibu-ibu yang ngasih tahu kalau tarif bus antar kota sekarang naik. Penumpang harus bayar setengah harga kursi di sebelahnya. Karena harga tiket bus Bandung-Sukabumi itu 30 ribu, jadi aku harus bayar 45 ribu. Setengah dari harga kursi di sebelah aku bayar. Thats okay, lagipula senang soalnya jadi luas tempat duduknya hehe.

Selama perjalanan sama sekali enggak terlihat kalau lagi pandemi. Banyak banget yang enggak pake masker, loh. Malah pas sampai Cianjur banyak penumpang baru yang ingin duduk di sampingku. Halah, padahal pasti ngertilah kalau harus ambil jarak. Untungnya, aku bisa menolak pakai alasan itu.

Singkat cerita, aku menginap semalam di rumah saudara kemarin. Waktu mau pulang besok harinya agak-agak males aku tuh. Bukannya apa-apa, males yang serba monoton dan ingin coba hal baru.

Waktu lagi asyik ngobrol sama saudara, tiba-tiba aku dengar suara lokomotif. O, iya. Baru ingat kalau rumah saudara memang dekat dengan stasiun. Akhirnya setelah ngobrol ngalor ngidul, aku pun memutuskan backpacker pakai kereta api.

Kata saudaraku kereta apinya cuma sampai Ciranjang. Nah, Ciranjang-Bandung itu sudah lumayan dekat. Jadi deh, aku langsung minta tolong saudara buat nganter besok harinya. Dari daerah Kebun Kelapa ke stasiun ternyata dekat sekali. Kami cuma perlu jalan sekitar 15 menit lewat gang-gang tikus untuk bisa sampai ke stasiun.

Amazing pas tau stasiun ini letaknya dekat pasar Pelita. Dulu waktu kecil sempet jadi saksi pasar ini dibangun. Tidak disangka sekarang balik lagi ke tempat itu, dan pasarnya ramai sekali.

Keluar dari gang, kami langsung masuk ke jalan Stasiun Timur. Stasiun kereta api adanya di jalan Stasiun Barat. Jalannya gampang diingat, sih, soalnya tinggal lurus saja.

Ketika sampai di depan stasiun saudaraku tidak ikut masuk. Jadinya kami berpisah di depan stasiun saja. Seperti yang sudah diduga, protokol Covid tetap dijalankan sebagai syarat masuk ke stasiun.

Di pintu masuk stasiun aku dicek suhu tubuh dahulu, kalau masker sudah pasti harus dipake terus. Setelah dicek suhu tubuh aku pun lanjut ke loket buat beli tiket. Ternyata tiketnya murah sekali, cuma 3 ribu saja. Aku pesan tiket yang sampai ke stasiun paling akhir, Stasiun Ciranjang.

Enggak nyangka semurah itu bisa sampai Ciranjang hehe. Stasiunnya sendiri mungil, tapi arsitektur Belandanya kuat sekali. Sayangnya cuma sempat foto-foto sebentar, padahal tadinya mau ngobrol dulu tentang sejarah stasiunnya. Soalnya, aku lihat penumpang yang beli tiket langsung masuk ke tempat tunggu kereta datang. Ya, sudah, aku ikut saja sama mereka.

Ternyata penumpang yang mau ke arah Cianjur banyak juga. Iyalah, dengan harga tiket semurah itu mending juga naik kereta. Apalagi fasilitas kereta api sekarang sudah maksimal. Gerbong yang bersih, ada tempat buat cas hape. Ada yang jual makanan di dalam kereta juga. Pokoknya super nyaman, deh.

Kereta Siliwangi datang kemudian pas sekali ketika aku selesai foto-foto di dalam stasiun. Kebetulan aku kebagian di gerbong 2. Senangnya lagi petugasnya sigap sekali. Tangga kecil untuk naik kereta langsung disandarkan ke gerbong untuk penumpang yang akan naik. Di beberapa jurusan kereta ekonomi kadang aku harus susah payah naik ke gerbong tanpa tangga tersebut.

Ketika masuk ke gerbong aku langsung mendapati kursi-kursi yang ditandai dengan stiker cross warna merah. Itu tandanya kursi tersebut tidak untuk diduduki. Lagi-lagi protokol standar Covid dijalankan disini. O, ya, ternyata untuk naik kereta api itu tidak perlu membayar setengah harga kursi di sebelahnya. Harga tiket tetap sama untuk kereta lokal dan antar provinsi. Hanya saja ada protokol kesehatan yang harus dijalani untuk kereta antar provinsi, yakni surat rapid test.

Nah, untuk kereta lokal ini walaupun ada nomor kursi di tiketnya, tetap saja duduknya bebas bisa dimana pun. Kereta Siliwangi tiba sekitar 10.20, dan berangkat pukul 11 siang. Sebelum sampai ke Ciranjang ada beberapa stasiun yang harus dilewati seperti, stasiun Gandasolih, Cireungas, Lampegan, Cibeber, Cianjur, dan terakhir Ciranjang.

Jujur, perjalanannya menyenangkan karena pemandangannya indah. Selain itu, penumpang di gerbongku lumayan sedikit, jadinya tidak ribut. Kereta Siliwangi tiba di Ciranjang sekitar pukul 1 siang. Stasiun Ciranjang kecil sekali, aku tidak sempat ambil foto bagian dalamnya karena penuh dengan calon penumpang.

Dari stasiun Ciranjang ke jalan raya ternyata tidak jauh. Dari pintu masuk stasiunnya saja sudah terlihat jalan rayanya. Aku tinggal menyebrangi jalan, dan mencari angkutan yang menuju Bandung. Tetapi, sebelum melanjutkan perjalanan aku mampir dulu ke sebuah warung.

Di warung ini ada es campur yang enak. Baksonya juga keliatan enak, tapi aku pesannya hanya es campur seharga 10 ribu saja. Kalau baksonya sekitar 15 ribu satu porsi. Es campurnya seger banget, ditambah porsinya juga penuh, jadi cukup seimbang dengan harganya.

 

Setelah istirahat cukup lama, aku pun melanjutkan perjalanan pulang. Ajaibnya, sewaktu lagi ancang-ancang mau nyebrang, aku melihat ada angkot jurusan Cimahi-Leuwi Panjang. Terus si supir angkotnya langsung mengajak untuk naik. Ke Bandung, Neng? tanyanya waktu itu. Spontan aku pun langsung mengangguk. Ini sih, pucuk dicinta ulam pun tiba namanya hehe.

Cerita punya cerita, ternyata si supirnya habis ngeborong hasil panen di rumah saudaranya. Makanya angkot jurusan itu lewat ke Ciranjang. Ah, ini memang rezeki saja dari Allah. Aku pun menikmati perjalanan pulang sambil mendengarkan si supir bercerita dengan penumpang di sebelahnya. Selama perjalanan pulang memang ada beberapa penumpang lain yang naik.

Sayangnya, angkot itu hanya sampai Cimareme. Setelah membayar 15 ribu, aku pun ganti angkot lain. Sialnya, si supir tidak jujur kali ini. Padahal aku sudah menanyakan tujuan yang ke arah Leuwi Panjang, dan dijawab dengan anggukan kepala saja olehnya.

Ternyata itu angkot jurusan Stasiun-Cimahi. Sempat dongkol juga, sih. Sewaktu sampai Cibeureum aku pun turun dan ganti angkot lagi. Aku hanya membayar 5 ribu rupiah saja untuk kali ini. Di Cibeureum aku naik jurusan yang seharusnya, ke arah Leuwi Panjang. Lega hatiku ketika akhirnya masuk ke kota Bandung, dan aku membayar seharga 4 ribu rupiah saja.

Dari terminal Leuwi Panjang aku naik angkot jurusan Ciwastra yang ke arah Kopo, dan membayar 3 ribu rupiah ketika sampai di depan komplek. Aku tiba sekitar pukul 5 sore di rumah. Cukup lama juga karena naik mobil ketengan, tapi puas sekali sudah mencoba hal yang baru.

Total biaya pulang dari Sukabumi-Bandung jadinya 40 ribu, itu pun plus dengan es campur hehe. Capek? Iyalah, besoknya langsung lenyeh-lenyeh lama banget buat ngilangin capek.

Tetapi, mencoba hal baru itu wajib menurutku. Selain jadi tahu yang sebelumnya tidak tahu, kita pun jadi dapat pengalaman baru. Aku pun dapat pengalaman yang banyak sekali kemarin itu. Yang mengejutkan, ternyata tidak semua orang panik dengan keadaan pandemi ini. Selama dalam perjalanan aku bertemu dengan banyak orang yang santai dan terlihat tidak terlalu khawatir dengan adanya Covid ini.

Walaupun begitu waspada tetap saja perlu. Santai itu baik untuk sisi psikologi, tetapi santai yang dibentengi waspada akan lebih baik lagi. Nah, ini adalah perjalanan yang menyenangkan sekali. Mencoba transmoda yang lain membuat aku jadi tahu ada cara lain untuk sampai ke Bandung. Yakni dengan naik sepur ke Cianjur.

 

 

 

6 comments
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like