Jejak Keajaiban Budaya Dibalik Keindahan Dieng

Jejak keajaiban Budaya Dibalik Keindahan Dieng

 

Tidak ada yang tidak mengenal Dieng, sebuah kawasan pegunungan di Provinsi Jawa Tengah. Fenomena keindahan Dieng selalu jadi magnet sepanjang masa. Keindahan dan kelengkapan fitur wisata yang dimiliki dataran tinggi Dieng mampu menyedot wisatawan dari waktu ke waktu. Kenyataannya memang Dieng memiliki kombinasi berbagai keunikan alam juga warisan budaya.

Sunset di Dieng

Candi-candi peninggalan era Hindu, Kawah Sikidang, telaga warna, Gunung Prau, hingga domba DoDi hanyalah beberapa keunggulan yang dimiliki Dieng. Belum lagi legenda dan tradisi yang memesona dibalik keindahan Dieng. Sungguh sebuah menu komplit dalam paket wisata dan budaya yang jarang dimiliki daerah lain.

Dataran tinggi yang dimiliki kawasan Dieng menyuguhkan keindahan tak terperi. Hal ini menguntungkan penduduk setempat dalam memilih mata pencaharian. Berbagai objek wisata di dalamnya telah berhasil memajukan sektor wisata juga pertanian masyarakat. Apalagi sekarang telah ada akses jalan tol Khayangan. Keberadaan jalan tol ini semakin memperlancar arus transportasi dan pendistribusian hasil pertanian.

Keunikan Masyarakat Dieng

Seperti umumnya penduduk yang tinggal di pegunungan, mata pencaharian utama masyarakat Dieng juga bertani. Mereka biasanya menghasilkan kentang, sesuai dengan kondisi tanah dan udara yang dingin. Masyarakat Dieng pada umumnya pekerja keras. Lereng-lereng dataran tinggi yang dipenuhi jalur penanaman kentang dan jenis tanaman lainnya jelas membuktikan kegigihan mereka. Hasil kerja keras mereka dibuktikan dengan berbagai kelengkapan fasilitas hidup yang dimiliki seperti rumah dan kendaraan.

Lahan pertanian ini juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung. Teras-teras lahan tani itu tampak sangat indah ditengah alam pegunungan. Kenyataan lainnya dari masyarakat Dieng adalah mengenai kerukunan beragamanya. Walaupun di Dieng terdapat kawasan candi peninggalan Hindu, pada umumnya mereka penganut agama Islam sinkretisme.

Pencampuran ajaran Islam dengan budaya Jawa menjadikan mereka paham arti menghargai perbedaan agama. Hal ini juga yang membuat masyarakat Dieng dapat menerima penganut agama lain di daerah mereka.

Dieng memang dianggap sebagai cikal bakal perkembangan agama Hindu oleh pemuka agama Bali. Para pemuka ini setahun sekali mengunjungi Dieng untuk ritual upacara keagamaan. Mereka mengambil air dari Gua Sumur di tepi telaga warna yang dianggap suci. Masyarakat Dieng sangat terbuka untuk hal-hal perbedaan keyakinan seperti ini. Mereka menerima para peziarah tersebut dengan toleransi tinggi. Tidak ada gangguan kepada para penganut agama Hindu tersebut ketika melakukan upacara atau bertapa.

Masyarakat Dieng memang terkenal dengan keterbukaan dan keramahannya. Mereka tidak tabu menerima perkembangan teknologi dan pengetahuan walaupun tradisi Jawa sangat kental dalam kehidupan sehari-hari. Terbukti dengan ramahnya penerimaan masyarakat pada para pendatang.

Masyarakat Dieng tidak sungkan untuk menjamu dengan penuh kehangatan orang-orang asing yang datang ke tempat mereka. Tentu saja kebiasaan baik ini sangat menguntungkan sektor pariwisata. Karena penerimaan yang hangat akan selalu berkesan bagi para wisatawan.

Jejak Keajaiban Dibalik Keindahan Dieng

Nama Dieng sebenarnya diambil dari bahasa sansekerta Di dan Hyang. Di berarti dataran tinggi atau gunung, sedangkan hyang memiliki arti dewa-dewa. Di Hyang dalam Bahasa Indonesia dapat diartikan menjadi gunung para dewa. Nama yang indah dan sesuai dengan keelokan kondisi alamnya. Dataran tinggi Dieng memang sangat cocok apabila diartikan sebagai tempat bermukim dewa-dewa.

Dataran tinggi yang terletak di Provinsi Jawa Tengah ini berada di antara Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara. Dataran tinggi Dieng merupakan daerah vulkanik yang masih aktif. Ketinggian datarannya sendiri sekitar 2000 meter di atas permukaan laut. Sedangkan suhu udara di Dieng biasanya sekitar 6 hingga 20 derajat tergantung waktu siang dan malam.

Dengan suhu seperti ini tidak heran apabila iklim di Dieng mirip dengan iklim negara-negara Eropa. Pertimbangan ini pula yang mendorong pemerintah untuk mengembangbiakkan domba-domba Eropa di Dieng. Keberadaan DoDi menjadi daya tarik sendiri bagi para pengunjung. Domba Dieng ini berbulu tebal dan sangat lucu. Domba-domba asal Belanda ini tidak takut pada orang asing. Karenanya banyak wisatawan yang memanfaatkan keramahan mereka untuk berfoto bersama.

Dieng memiliki keindahan alam, Dieng juga memiliki keindahan tradisi dan warisan budaya. Beberapa tempat di Dieng dikaitkan dengan legenda-legenda. Seperti halnya kawah Sikidang yang memiliki cerita indah dibalik keberadaannya. Hal ini bisa jadi magnet tersendiri bagi para wisatawan. Karena kebanyakan para pelancong memang mencari hal unik yang dimiliki daerah tujuan wisatanya.

Kawah-kawah yang terdapat di dataran tinggi Dieng terbentuk akibat letusan Gunung Prau berabad silam. Kawah Sikidang merupakan kawah utama yang ada di Dieng. Uniknya, kawah ini dipercaya dapat berpindah tempat dengan sendirinya. Hal ini yang menyebabkan masyarakat Dieng menjulukinya Sikidang. Karena tingkah lakunya mirip dengan kijang yang senang melompat kesana-sini.

Kepercayaan seperti ini saja sudah dapat menarik keingintahuan para wisatawan. Mereka pasti penasaran dengan wujud kawah yang disebut-sebut dapat berpindah tempat itu. Belum lagi legenda cantiknya dibalik sebutan untuk kawah Sikidang ini. Legenda yang ternyata berhubungan erat dengan Anak Gembel, sebutan untuk anak-anak Dieng berambut gimbal. Cerita zaman dahulu tentang Shinta Dewi dan Kidang Garungan.

Legenda Sikidang dan Anak Gembel

Siapa sangka kalau anak-anak Dieng yang berambut gimbal ternyata menyimpan cerita. Dikisahkan dari legenda terkenal tanah Jawa tentang kecantikan Shinta Dewi. Shinta Dewi yang memiliki paras elok selalu jadi rebutan para pangeran. Sayangnya Shinta Dewi memiliki sifat tamak dan selalu meminta mas kawin yang tinggi. Tentu saja banyak pangeran yang mundur karena permintaannya yang tidak masuk akal itu.

Hingga suatu hari Pangeran Kidang Garungan mendengar tentang kecantikan Shinta Dewi. Utusan kerajaan kemudian dikirimkan untuk meminang gadis cantik itu. Shinta Dewi dengan senang hati menerima pinangannya karena terpikat oleh perhiasan yang dikirimkan Kidang Garungan. Dia pikir pasti si pangeran sangat tampan dan kaya.

Padahal sesuai dengan namanya, Kidang Garungan memiliki wujud yang tidak biasa. Pangeran ini berbadan manusia tapi dengan kepala kijang. Shinta Dewi sangat terkejut ketika mengetahui wujud calon suaminya. Dia lalu memberikan syarat lainnya untuk melangsungkan pernikahan. Kidang Garungan dimintanya menggali sumur untuk penduduk yang kesulitan air. Pangeran kijang itu menyanggupi dengan senang hati. Dengan kesaktian yang dimilikinya, menggali sumur adalah hal yang mudah.

Shinta Dewi gelisah ketika sumur dengan mudahnya dibuat oleh Kidang Garungan. Dia lalu meminta bantuan penduduk untuk menimbun lubang sumur. Karena banyak penduduk yang ikut menimbun, tanah malah jadi longsor dan menimpa Kidang Garungan. Pangeran itu jadi tertimbun hidup-hidup.

Kidang Garungan sangat murka dan mengeluarkan segenap kesaktian juga supata. Kesaktiannya menimbulkan ledakan dan menciptakan kawah. Di tengah kemarahannya Kidang Garungan mengutuk orang-orang yang menimbun dan keturunan Shinta Dewi dengan sebutan Anak Gembel.

Ini fenomena menarik dari anak Dieng yang berambut gimbal. Memang ada kepercayaan tentang membuang sial atau aura negatif pada anak-anak ini. Anak gimbal Dieng tidak membawa gen rambut gimbal dari lahir. Mereka mendapatkan rambut gimbal setelah mendapat sakit panas terlebih dahulu. Biasanya setelah sakit panas, rambut anak-anak itu akan terjalin sendiri dan jadi gimbal.

Foto Google Anak Gembel

Bisa saja aura negatif yang dipercaya dibawa anak gimbal berhubungan dengan supata Kidang Garungan. Karena itulah anak gimbal Dieng harus melalui upacara ruwatan ketika dipotong rambut gimbalnya. Ruwatan ini dimaksudkan untuk membuang sial yang ada di Anak Gembel.

Upacara ruwatan anak gimbal juga harus dilakukan setelah keinginannya dipenuhi. Semahal atau sesulit apapun keinginannya harus tetap dipenuhi sebagai syarat ruwatan. Upacara potong rambut gimbal ini biasanya dilaksanakan dalam acara Dieng Culture Festival (DCF). Tentu saja acara kebudayaan ini menyedot perhatian wisatawan. Keunikan budaya memang jadi salah satu alasan utama para pelancong datang ke suatu daerah.

Dalam upacara ruwatan Anak Gembel ini tentu saja ada makanan yang jadi ciri khasnya. Seperti Buju Robyong yang mewakili gambaran Anak Gembel itu sendiri. Makanan berupa nasi tumpeng ini bagian atsanya dilengkapi jajanan pasar.

Kemudian ada Buju Kalung yang khusus untuk aparat desa. Adapun kebiasaan lainnya adalah menyiapkan sesajen untuk leluhur. Hidangan yang biasa disiapkan untuk leluhur berupa bunga mawar putih dan merah, kopi, teh, air putih, dan rokok.

Rambut gimbal yang telah dipotong nantinya akan dibuang ke telaga warna. Telaga warna ini alirannya menyambung hingga ke laut selatan. Sesuai dengan mitos lainnya yang menyatakan Anak Gembel adalah titipan dari Nyai Roro Kidul. Upacara melarungkan rambut gimbal di telaga berarti juga mengembalikan titipan pada pemiliknya, yakni Ratu Pantai Selatan.

Sayangnya Dieng Culture Festival tidak diadakan pada tahun ini. Ruwatan Anak Gembel diselenggarakan secara sederhana di rumah. Namun tetap prosesnya dilakukan setelah semua keinginan si anak dipenuhi terlebih dahulu.

Jejak warisan budaya dibalik keindahan Dieng memang merupakan nilai jual yang tinggi. Legenda Kidang Garungan dan kaitannya dengan Anak Gembel pastinya dapat menarik banyak wisatawan. Terutama benang merah cerita turun temurun itu dengan keberadaan anak berambut gimbal di Dieng.

Dataran tinggi Dieng memang menyimpan sejuta pesona yang takkan pernah habis. Begitu banyak spot wisata yang bisa dioptimalkan di dataran ini. Keindahan alam, peninggalan bersejarah, hingga tradisi yang berupa warisan budaya merupakan satu kesatuan. Sebuah anugerah yang diberikan Tuhan pada tempat ini karena memiliki paket wisata yang memesona.

Dieng tidak akan pernah habis dijelajahi keindahan alamnya. Dieng tidak akan pernah habis untuk dieksplorasi warisan budaya dan tradisinya. Dieng tidak akan pernah dilupakan sepanjang masa. Begitu banyak pengetahuan dalam peninggalan bersejarahnya yang dapat dipelajari oleh setiap generasi. Dieng adalah sejumput keindahan surga yang sengaja Tuhan ciptakan untuk kita.

 

 

Sumber : Foto dokumen pribadi

Foto Anak Gembel dari Google

 

 

1 comment
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *